Filosof Arab Pengkritik Epistemologi Barat | – Tarjih Muhammadiyah


Abdul Wahhab al-Massiri: Filosof Arab Pengkritik Epistemologi Barat

Muhamad Rofiq*

 

Salah satu isu sentral yang menjadi perhatian para intelektual Arab abad modern adalah bagaimana dunia Arab merespon hegemoni Barat, baik dalam bidang politik, budaya, maupun pengetahuan (epistemologi). Ragam konsep dan gagasan telah diajukan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Hassan Hanafi misalnya menawarkan proyek besar oksidentalisme atau studi dunia Timur terhadap dunia Barat, kebalikan dari orientalisme. Ada pula Muhammad Arkoun yang menggagas ide the Emerging Reason yang berusaha mengintegrasikan epistemologi Barat dan Timur. Selanjutnya ada Ismail Raji al-Faruqi dan Taha Jabir al-Ilwani yang mengetengahkan gagasan Islamisasi pengetahuan melalui lembaga bernama IIIT (International Institute of Islamic Thought).

Abdul Wahhab al-Massiri adalah satu di antara sekian filosof Arab yang mengajukan alternatif pemikiran untuk menyikapi paradigma filsafat Barat. Gagasannya terkait the Western worldview (pandangan dunia Barat) relatif unik. Idenya tidak dekonstruksionis seperti halnya Hassan Hanafi, tidak liberal dan akomodasionis seperti Arkoun, dan tidak juga apologetik seperti al-Faruqi dan al-Ilwani.

Totalitas respon kritis al-Massiri barangkali dapat disifati sebagai relativistik. Ia mengajak dunia muslim untuk melakukan relativisasi atau provinsialisasi Barat dengan cara melenyapkan asumsi bahwa nilai Barat adalah nilai yang universal, sentral dan absolut. Relativisasi Barat bukan berarti penolakan secara keseluruhan sampai pada tahap pengingkaran kontribusi peradabannya, tetapi penolakan pandangan filosofisnya yang dianggap tidak koheren dengan pandangan dunia Islam.

Hal ini hanya dapat dicapai, menurutnya, melalui sejumlah tahapan. Diantaranya memiliki pemahaman yang mendalam, reflektif dan kritis terhadap paradigma filosofis (al-namudzaj al-ma’rifi) peradaban Barat. Ia menganjurkan agar umat Islam untuk memahami sosiologi pengetahuan Barat dan memahami transformasi radikal corak filsafatnya.

Sarjana muslim kemudian perlu melakukan studi terhadap krisis peradaban Barat modern. Mereka bisa belajar dengan membaca karya-karya tulis ilmuwan Barat seperti Max Weber, Arnold Toynbee, intelektual mazhab Frankfurt, Frederick Jameson dan lainnya yang telah terlebih dahulu melakukan otokritik terhadap epistemologi Barat.

Ringkasnya, sarjana muslim perlu memahami watak dasar atau fondasi paradigmatik filsafat Barat: bagaimana asumsi dasar pandangan Barat tentang Tuhan, manusia, alam semesta, akal pikiran dan seterusnya. Dari sana kemudian, sarjana muslim perlu mengembangkan paradigma alternatif yang bersumber dari warisan intelektual dan kebudayaan Islam dan didasarkan pada sifat dinamis konsep ijtihad.

 

Karir dan Karya Intelektual

Abdul Wahhab al-Massiri adalah sosok yang multi talenta. Di samping seorang filosof, ia juga seorang sastrawan, aktivis hak asasi manusia, dan politisi.

Al-Massiri lahir di Damanhur, kota kecil di delta sungai Nil sebelah barat, Mesir, tahun 1935. Ia wafat di Kairo tahun 2008 pada usia 75 tahun. Al-Massiri menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Alexandria bidang Sastra Inggris. Kemudian melalui beasiswa Fulbright ia melanjutkan studinya di Amerika selama 10 tahun. Ia menempuh pendidikan master di Columbia University, New York, dan PhD di Rutgers University di New Jersey.

Sekalipun bidang keilmuan awalnya adalah sastra, al-Massiri memperluas kajiannya ke arah studi filsafat Barat. Baginya sastra adalah pintu masuk untuk memahami nilai-nilai kultural yang melandasi sebuah peradaban. Minat al-Massiri terhadap aspek filsafat dari karya sastra bisa kita lihat dari disertasinya yang meneliti tentang konsep “matinya sejarah (the death of history)” dari dua orang sastrawan Barat terkemuka abad ke 19, yaitu: William Wordsworth (Inggris) and Walt Whitman (Amerika).

Selepas menyelesaikan studinya di Amerika, al-Massiri kembali ke Mesir untuk melanjutkan karir sebagai seorang akademisi. Ia mengajar di Ain Syams University sampai memperoleh gelar guru besarnya di sana. Selain itu, ia juga sempat menjadi profesor tamu di Arab Saudi, Kuwait, dan Malaysia.

Selama perjalanan karirnya sebagai seorang intelektual, al-Massiri mengalami transformasi pemikiran yang sangat radikal. Di era tahun 1950-an ia adalah anggota Ikhwanul Muslimin. Pada dekade setelahnya, era 1960-an, paradigma berfikirnya bergeser ke arah kiri. Ia menjadi seorang Marxis tulen bahkan kemudian menjadi anggota partai komunis Mesir.

Kecendrungan menjadi kiri ini memang cukup umum di kalangan intelektual Mesir pada dekade tersebut. Selain al-Massiri, Hassan Hanafi dan Muhammad Imarah misalnya juga pernah mengalami fase ini. Al-Massiri dalam memoarnya menyebut bahwa ia sangat terpukau dengan gagasan materialisme historis-nya Karl Marx.

Setelah kekalahan perang negara Arab dari Israel tahun 1967, al-Massiri mengalami titik balik. Ia meninggalkan Marxisme dan kemudian memutuskan untuk mendalami Islam sebagai paradigma filosofis.

Dalam bidang politik, pada era tahun 2000-an, al-Massiri memutuskan untuk bergabung dengan partai baru bernama Hizb al-Wasat (Partai Moderat) yang didirikan oleh para mantan anggota Ikhwanul Muslimin. Ia juga kemudian menjadi ketua dan salah satu pendiri gerakan oposisi Kifayah yang menuntut Presiden Husni Mubarak turun dari jabatannya. Organisasi ini terdiri dari aktivis penentang otoritarianisme rezim dari berbagai kalangan, baik kelompok kiri sekuler sampai ke anggota Ikhwanul Muslimin. Inilah organisasi pertama di Mesir yang secara terbuka berani memproklamirkan perlawanan terhadap rezim Mubarak.

Al-Massiri adalah seorang penulis yang sangat produktif. Ia telah menghasilkan puluhan karangan, baik dalam bentuk buku maupun artikel, dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggris. Secara umum, karya-karya al-Massiri dapat diklasifikan ke dalam tiga kategori.

Pertama, tulisan yang berfokus pada kritik epistemologi barat. Terkait bidang ini, lima karyanya yang paling terkemuka adalah Dirasah Ma’rifiyyah fi al-Hadatsah al-Gharbiyyah (Studi Epistemologis terhadap Modernitas Barat), al-Hadatsah wa ma ba’da al-Hadatsah (Modernitas dan Paska-Modernitas), al-Firdaus al-Ardiy: Dirasah wa Intiba’at ‘an al-Hadarah al-Amrikiyyah al-Haditsah (Surga Dunia: Kajian dan Kesan mengenai Peradaban Amerika Modern), Isykaliyyah al-Tahayyuz: Rukyah Ma’rifiyyah wa Da’wah lil Ijtihad (Problem Bias Epistemologi Barat dan Seruan untuk Ijtihad), dan al-‘Almaniyyah al-Juziyyah wa al-‘Almaniyyah al-Syamilah (Sekulerisme Parsial dan Sekulerisme Komprehensif).

Kedua, al-Massiri menaruh perhatian secara khusus mengenai problem penjajahan Zionisme terhadap Palestina. Ia menulis tentang topik ini dari dua pendekatan, yaitu kritik epistemologis dan politis. Diantara karyanya di bidang ini adalah: Nihayah al-Tarikh: Muqaddimah li Dirasah Bunyah al-Fikr al-Shahyuni (Akhir dari Sejarah: Pengantar Kajian Mengenai Struktur Pemikiran Zionisme), dan karya magnum opus-nya yang terdiri dari delapan jilid, yaitu Mawsu’ah al-Mafahim wa al-Mustalahat al-Suhyuniyyah (Ensikopedi Konsep dan Istilah Zionisme).

Ketiga, dan ini yang paling unik, al-Massiri juga menekuni bidang sastra, khususnya cerita fiktif untuk anak. Ia menerbitkan beberapa karya tulis di bidang ini, diantaranya Qishshah Sari’ah Jiddan, Qisshah lil Atfal (Cerita Sangat Singkat, Cerita untuk Anak-anak), Ughniat ‘ila al-Asyya’ al-Jamila (Lagu-lagu yang Membawa kepada Keindahan), dan Qishshah Khayaliyyah Jiddan, Qisshah lil Atfal (Cerita Sangat Fiktif, Kisah untuk Anak-anak). Terkait karya-karyanya di bidang ini, al-Massiri bahkan pernah mendapatkan penghargaan dari Suzan Mubarak, istri Presiden Mesir Husni Mubarak.

 

* Penulis adalah alumni PCIM Mesir dan saat ini menjadi anggota PCIM Amerika Serikat



Source link

Kritik Abdul Wahhab al-Massiri terhadap Epistemologi Barat | – Tarjih Muhammadiyah


Kritik Abdul Wahhab al-Massiri terhadap Epistemologi Barat

Muhamad Rofiq*

Kritik terhadap bangunan keilmuan Barat belakangan menjadi sangat popular di kalangan akademisi khususnya melalui sebuah tren intelektual yang disebut dengan “putaran dekolonisasi (decolonization turn)”. Sebelum tren ini mengemuka, kritik terhadap pemikiran Barat umumnya dikenal melalui wacana “critical theories” yang diusung oleh the Frankfurt School.

Di dunia Arab Islam, wacana kritis terhadap filsafat Barat merupakan fenomena yang relatif baru. Pada dekade 1960-an, Marxisme sempat menjadi tren di kalangan akademisi muda Arab. Paska runtuhnya Uni Soviet dan munculnya dominasi paradigma liberal yang ditandai oleh kelahiran tesis the End of History, banyak intelektual Arab yang kemudian mengidentifikasi dirinya sebagai pemikir liberal.

Setelah munculnya orientasi filosofis baru yang disebut sebagai pos-modernisme (ma ba’da al-hadatsah) atau pos-strukturalisme (ma ba’da al-bunyah) di Barat, muncul pula tren ini di kalangan pemikir Arab. Pendekatan dekonstruksi yang menjadi ciri khas pos-modernisme kemudian banyak digunakan untuk membaca teks-teks Islam.

Abdul Wahhab al-Massiri adalah satu di antara sedikit intelektual Arab yang mengambil posisi kritis terhadap apa yang ia sebut sebagai “paradigma epistemologis Barat modern” (al-manzhumah al-ma’rifiyyah al-gharbiyyah al-haditsah, the modern western epistemological paradigm).

Al-Massiri menolak untuk mengidenfikasi dirinya sebagai pemikir sekuler, liberal, rasional, atau pos-modernis dan pos-strukturalis. Bagi al-Massiri, konsep-konsep filsafat Barat tersebut sangat problematis dan tidak koheren dengan pandangan monoteistik Islam.

Baginya, baik filsafat modernisme (yang lahir pada zaman Pencerahan Eropa) ataupun filsafat post-modernisme (yang muncul sebagai kritik terhadap modernisme) sebenarnya setali tiga uang. Perbedaan keduanya lebih bersifat artifisial. Secara substantif, keduanya lahir dari pandangan dunia yang sama dan akan menghasilkan output yang sama pula. Al-Massiri dalam banyak karyanya melancarkan kritik yang signifikan untuk paradigma filsafat modernisme atau pun post-modernisme.

Kritik Modernisme

Menurut al-Massiri, sekalipun memiliki banyak varian konsep dan orientasi, paradigma epistemologi Barat modern sebenarnya memiliki kesamaan fondasi paradigmatik.

Pertama, filsafat modernisme yang melahirkan modernitas tersebut didasarkan pada metafisika imanen (mitafisiqa al-kumun), yaitu asumsi bahwa pusat kehidupan dunia ada di dalam dunia itu sendiri, bukan di luarnya (transenden).

Metafisika ini kemudian melahirkan pandangan dunia yang materialistik (al-namudzaj al-madiy). Wujud (eksistensi) yang bisa diakui hanya yang bersifat material. Selain dari materi hanyalah refleksi dari pergerakan materi itu sendiri.

Segala sesuatu yang wujud juga diyakini dapat diketahui melalui lima panca indera. Apa yang tidak diketahui, pada waktunya nanti akan diketahui seiring dengan terakumulasinya data empirik. Jadi bagi paradigma ini, semua wujud harus dapat diukur (measurable), tampak (perceptible), dan kuantitatif. Dengan demikian tidak ada yang terbatas bagi pengetahuan dan indera manusia.

Sifat materialistik peradaban Barat ini, kata al-Massiri, bisa dipahami dari metafor-metafor yang digunakan oleh para pemikirnya. Isac Newton misalnya mengibaratkan dunia seperti sebuah arloji, Thomas Hobbes dan Machiavelli mengibaratkan manusia seperti serigala yang memangsa sesamanya, Spinoza menyebut manusia seperti batu yang dilempar oleh tangan yang kuat, Max Weber menyebut abad modern sebagai the iron cage (sarang besi) dan metafor-metafor lainnya.

Kedua, sebagai implikasi dari lahir dan dominan-nya metafisika imanen adalah ide tentang yang transenden atau sesuatu yang berada di luar alam fisik (mitafisiqa al-tajawuz) menjadi musnah (the idea of transcendence is entirely eradicated). Puncaknya, ini membawa pada dua konsekwensi, yaitu: lenyapnya Pencipta dari kehidupan manusia dan nilai-nilai moral dianggap tidak lagi ada (moral codes are non-existent). Inilah yang kemudian melahirkan krisis moral akut pada abad modern seperti dimanifestasikan oleh penjajahan dan perang dunia.

Ketiga, turunan lainnya dari metafisika imanen adalah lahirnya paradigma humanisme dalam epistemologi Barat. Menurut paradigma ini, manusia adalah pusat dari kosmos atau alam semesta (al-insan markaz al-kaun). Manusia adalah penguasa alam semesta (the master of nature) dan penentu jalannya sejarah (the maker of history). Dengan kapasitas akal yang dimilikinya, manusia dianggap mampu mencapai kesenangan dan surga dunia (al-firdaus al-ardli). Manusia juga diyakini dapat mengetahui realitas secara komprehensif (idrak al-waqi’ ka al-kull).

Keempat, berakumulasinya paradigma materialisme dan humanisme dalam epistemologi Barat tersebut kemudian melahirkan apa yang disebut oleh al-Massiri sebagai materialisme monistik, yaitu pandangan yang meyakini bahwa manusia adalah unsur yang tidak terpisah dengan alam dan materi. Keduanya dianggap sebagai satu entitas (yusbihu al-insan wa al-tabiah kainan wahidan).

Lebih dari itu, pandangan ini bahkan menolak adanya dualitas manusia dan Tuhan (yulghi tsanaiyyat al-insan wa al-khaliq). Tuhan sudah dianggap menjelma dalam diri manusia itu sendiri. Al-Massiri menyebut ini sebagai konsep panteism atau al-hulul. Dalam konsep ini, secara prinsipil Tuhan sudah dianggap tidak ada. Ia melebur dalam hukum alam (al-qawanin al-tabiah), hukum ilmiah (al-qawanin al-ilmiyyah), dan hukum sejarah (harakah al-tarikh). Dengan kata lain, peran Tuhan sudah tergantikan oleh penjelasan ilmu pengetahuan.

Keempat, filsafat Barat modern berpijak pada konsep “progress (kemajuan)”. Konsep ini dielu-elukan oleh banyak pemikir Eropa sejak zaman Pencerahan. Konsep ini bahkan menurutnya menjadi landasan bagi modernitas Barat itu sendiri (progress is the cornerstone of Western modernity). Melalui konsep ini, pemikir Barat mengkampanyekan gagasan bahwa gerak sejarah manusia akan terus maju ke depan. Proses ini sudah menjadi hukum alam yang tidak dapat terhindarkan.

Bagi al-Massiri konsep kemajuan dalam filsafat Barat memiliki problem serius. Pertama, ia bersifat materialistik. Bagi konsep ini, cara untuk mengukur kualitas sebuah peradaban adalah akumulasi materi. Nilai-nilai spiritual tidak memiliki relevansi sama sekali. Kedua, konsep ini bersifat universal. Perjalanan sejarah yang linier dari keterbelakangan menuju kemajuan akan berlaku pada semua unit peradaban. Konsekwensinya, keunikan setiap peradaban akan tergulung oleh kekuatan yang bersifat global.

Ketiga, konsep ini narsistik karena ia meletakkan Barat pada puncak sejarah yang dianggap berjalan secara evolusionis dan natural. Peradaban Barat lah yang menjadi model dari perjalanan sejarah manusia. Keempat, konsep ini tidak memiliki konten moral dan tujuan teleologis sama sekali. Kemajuan menjadi tujuan itu sendiri (self-referential), bukan dimaknai sebagai sebuah proses yang membawa pada tujuan yang bersifat spiritual atau moral.

Delusi Pos-Modernisme

Setelah melalui fase modernisme, filsafat Barat kemudian mengenal gelombang pemikiran baru yang disebut sebagai pos-modernisme. Secara historis dan filosofis, pos-modernisme sebenarnya adalah kritik terhadap (dan usaha untuk melampaui) modernisme. Pos-modernisme menolak kesuluruhan proyek pemikiran zaman Pencerahan yang melahirkan modernisme.

Secara spesifik, paradigma filsafat ini menolak humanisme yang meletakkan manusia sebagai pusat dari kehidupan dunia. Manusia dianggap memiliki keterbatasan untuk mencapai pengetahuan tentang realitas. Semua pengetahuan yang ia miliki bersifat relatif. Keinginannya untuk mencapai pengetahuan yang bersifat total dianggap sebagai hanya angan-angan.

Filsafat pos-modernisme memaknai ulang keberadaan manusia secara ontologis dan epistemologis. Secara ontologis, manusia tidak lain hanya sekumpulan nafsu berkuasa, dorongan ekonomi dan seksual. Secara epistemologis, pengetahuan manusia tentang realitas bukanlah sesuatu yang rasional.

Jadi, menurut al-Massiri, filsafat Barat mengalami pergeseran pandangan yang sangat substantial (al-taraju’ al-jauhariy) tentang manusia. Modernisme bermula dari pandangan yang menuhankan manusia (ta’lihu al-insan/deification of man) dan pos-modernisme berakhir pada semangat anti-manusia (didd al-insan/against human).

Selain itu, pos-modernisme juga menolak rasionalisme dan keyakinan bahwa akal adalah instrumen yang mampu memperoleh pengetahuan objektif tentang realitas. Lebih jauh, sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi narasi modernisme, pos-modernisme bahkan menolak eksistensi dari apapun yang disebut sebagai sentral dan fondasi (rafd al-asas). Tidak ada yang disebut dengan realitas yang konstan. Alam, manusia, dan moralitas terus berubah.

Dengan kata lain, paradigma ini meyakini tentang tidak perlunya suatu wacana besar (meta-narrative) dan supremasi ideologi apapun, apakah ia berasal dari modernitas Barat atau yang lainnya. Implikasi paling jauh adalah, pos-modernisme menolak kemungkinan adanya objektifitas, dan adanya kebenaran itu sendiri.

Al-Massiri memiliki sikap yang tegas terhadap filsafat pos-modernisme. Ia menolak untuk menaruh kepercayaan terhadap filsafat ini sekalipun secara sepintas tampak menjanjikan karena premis awalnya adalah resistensi dan dekonstruksi terhadap modernisme. Baginya, pos-modernisme masih membawa kecendrungan materialistik yang ada pada filsafat modernisme. Tidak mengherankan jika kemudian al-Massiri menyebut para pengusung filsafat pos-modernisme sebagai al-madiyyun al-judud (neo-materialis).

Bagi al-Massiri, pergeseran dari filsafat modernisme ke pos-modernisme sama sekali tidak bermakna signifikan. Filsafat Barat hanya beralih dari materialisme rasional menuju materialisme irasional yang menegasikan peran akal. Jika yang pertama cenderung lebih kaku (karena klaim kebenaran universal yang diusungnya) yang kedua lebih fleksibel karena tidak ada kebenaran apapun yang eksis. Al-Massiri menyebut ini sebagai perpindahan dari “materialisme rasionalistik lama yang padat” menuju “materialism irasional baru yang cair” (min al-madiyah al-‘aqlaniyyah al-qadimah al-sulbah ila al-madiyyah al-aqlaniyyah al-jadidah al-sailah).

Alasan selanjutnya di balik penolakan al-Massiri terhadap paradigma pos-modernisme adalah karena filsafat ini meniadakan yang transenden. Apa yang diakui adalah apa yang ada di dunia. Zat yang transenden tetap tidak mendapatkan tempat dalam filsafat ini. Pos-modernisme masih berada pada kecendrungan penolakan terhadap metafisika iman (tsaurah diddu al-metafisiqa al-imaniyyah). Al-Massiri bahkan menyebut pos-modernisme sebagai pembawa paradigma imanensi yang lebih komprehensif daripada modernism.

Al-Massiri menolak untuk menyebut pos-modernisme sebagai sebuah horizon baru untuk melakukan pembebasan dari belenggu modernisme. Secara prinsipil, filsafat pos-modernisme adalah filsafat relavitistik dan nihilistik. Ia tidak memiliki tujuan akhir yang bersifat moral sama sekali. Dekonstruksi terhadap narasi besar modernisme dan hilangnya kebenaran tunggal dianggap sebagai tujuan itu sendiri, bukan sebagai cara untuk membawa kembali nilai-nilai agama dan moral.

Pada akhirnya, al-Massiri menyarankan agar pemikir muslim tidak selayaknya menaruh kepercayaan terhadap narasi-narasi pos-modernisme ini.

* Penulis adalah alumni PCIM Mesir dan saat ini menjadi anggota PCIM Amerika Serikat



Source link