Persatuan Manusia: Pidato ‘Aisyiyah dalam Kongres Perempuan Pertama 1928 – Berita – NewsMuh



news.tarjih.id menayangkan informasi terkini, Persatuan Manusia: Pidato ‘Aisyiyah dalam Kongres Perempuan Pertama 1928 – Berita


Oleh: Afandi


Berangkat dari semangat pencerahan Islam Kiai Ahmad Dahlan, pada 19 Mei 1917 ‘Aisyiyah lahir melampaui zamannya dengan misi memperjuangkan derajat kemuliaan perempuan sesuai nilai-nilai Islam yang mencerahkan.


Menghadapi hambatan dari kelompok tradisionalis dengan pandangan kebudayaannya yang mapan, ‘Aisyiyah melalui gerak pendidikan perempuan dan ketahanan sosial tetap berusaha meruntuhkan pandangan yang membatasi gerak perempuan sebatas pada urusan rumah tangga belaka.


Semangat tersebut kiranya tergambar dalam pidato salah satu tokoh ‘Aisyiyah Siti Hajinah Mawardi dalam Kongres Perempuan Pertama pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.


Berikut salinan teks pidato Siti Hajinah yang diambil dari buku berjudul “Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang” oleh Susan Blackburn (2007) dengan beberapa penyuntingan dan penyesuaian.


Persatuan Manusia


Kongres yang mulia, kaum putri yang terhormat!


Sudah tidak kekhilafan lagi bahwa hidupnya badan itu terbagi menjadi beberapa bagian, misalnya: kaki, tangan, kepala, hidung, mata, dan lain-lain yang tidak sama rupanya, tempatnya dan pekerjaannya. Akan tetapi meskipun begitu, dapatlah bersatu, tidak perselisihan.


Hidupnya manusia, itu betulnya juga harus menjadi satu, harus persaudaraan, harus persatuan sebagaimana hidupnya badan, walaupun tidak sama supan dan cengkoknya, ada yang kecil dan besar, ada yang gemuk dan kurus, berkulit hitam dan putih, ada yang bagus dan lain-lain.


Begitu pula berlainan tempatnya: ada yang tinggal di tanah Jawa, Sumatra, Cina, Arab, Amerika, Perancis, Afrika, dan yang semacamnya. Sedang pekerjaannya pun berlainan juga: ada yang menjadi tukang tani, tukang batu, tukang kayu, saudagar, guru, dokter, ahli hukum, insinyur, profesor, dan lain-lain.


Saudara-saudara, ketahuilah bahwa hidupnya manusia itu tidak sama dengan hidupnya binatang!


Hidupnya binatang, bolehlah kami katakan tidak membutuhkan teman, tempat, pakaian, makanan yang enak-enak dan lain-lain sebagainya, sedangkan manusia tak bisalah hidup dengan sendirian. Akan tetapi membutuhkan teman, tempat, pakaian, barang makanannya pun harus dimasak lebih dahulu sehingga matang dan enak.


Ketika masih kecil, manusia membutuhkan orang yang menjadikannya, mendukung, memberi makan, dan lain-lain. Sesudah besar, butuh mencari ilmu atau kepandaian, membutuhkan orang yang memberi pelajaran atau guru.


Apabila sudah tua membutuhkan rumah, yang selanjutnya membutuhkan tukang kayu, tukang batu, tukang besi, dan lain-lain sebagainya. Jikalau terserang penyakit, membutuhkan dokter dan orang yang memberi obat. Pendek kata, hidupnya manusia mulai baru lahir dari kandungan ibunya sampai mati, itu selalu membutuhkan teman.


Sebagai percontohan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendirian ialah menilik pulau-pulau, pulau-pulau mana berjenis-jenis isinya. Di pulau Jawa banyaklah tetumbuhan kayu jati, sedang di pulau Arab sedikitpun tidak ada. Tanah Sumatra, adalah pelican emas dan perak, sedang tanah Cina tak ada. Di pulau Cina ada hewan, hewan mana bolehlah dipergunakan sutera, sedang di pulau Afrika tidak ada.


Keterangan yang lebih panjang tentang perbedaan keadaannya pulau satu dengan lainnya, sudahlah dijelaskan di dalam buku-buku dan kitab-kitab yang tidak sedikit jumlahnya, maka hendaklah diulangi dan tidak perlulah kami uraikan di sini.


Yang demikian itu, maka berpuluh-puluh ribu orang yang sama pergi merantau di negeri lain, saling bertukaran perdagangan dan sebagainya.


Memperhatikan dan mengingat keterangan-keterangan tersebut di atas, maka teranglah, bahwa hidupnya manusia itu harus bergaulan, berhubungan, berdamai (rukun), bersaudaraan, dan persatuan.


Sudah tidak salah lagi, bahwa damai, persatuan, itulah suatu perkara. Perkara mana, tentulah semua manusia mengakui akan kebaikannya, karena memang persatuan ini, adalah suatu alat yang dapat menghasilkan maksud yang besar, begitu pula menjadi senjata bagi manusia untuk mencari kepada bahagia, sejahtera, kesenangan, kemakmuran dan lain-lain sebagainya.


Saudara-saudara, ketahuilah bahwa hidupnya manusia itu tidak dapat terasa nyaman, jikalau tidak dengan berdamai. Sebab damai itu kecuali dapat mengangkat barang yang berat, juga dapat merapatkan atau meneguhkan persaudaraan, menambah kecintaan. Jadi orang yang tidak berdamai tentulah mudah sekali bermusuhan, berselisihan, bercerai-berai, akhirnya menimbulkan kebencian, berfitnah dan lain-lain sebagainya.


Di sini perlulah kami beri contoh sedikit, tentang manfaat damai atau persatuan, demikianlah:


1. Air, sesudah beku menjadi es, tidaklah mudah dihancurkan.


2.Tanah, jika berkumpul menjadi satu (bumi) dan diinjak-injak tidaklah dapat bercerai (ambyar, Jawa), diperdirikan rumah tidak dapat roboh, ditanamipun tidak bisa merabahkan.


3. Orang dagang, kalau sudah berserikat, tambahlah besar dan lagi tersohor dagangannya.


4.Gerombolan-gerombolan atau perhimpunan perhimpunan, yang sudah berdamai, dapatlah membuat takut kepada musuhnya sehingga sukar dipecah atau dilawan.


5. Dari sebab perhimpunan Muhammadiyah berdamai, maka dapatlah mendirikan berpuluh-puluh sekolahan, selalu hidup subur, semakin lama semakin besar dan disukai orang banyak.


Oleh karena manusia itu berlainan pekerjaan, begitu pula berlainan keadaan yang meliputinya, maka tentulah perasaan, pengetahuan dan kehendaknya saling berbeda juga. Akan tetapi saling berbedanya pengetahuan, dapatlah diakurkan.


Saudara-saudara, memang hanya satulah jalan yang dapat mendatangkan kepada persatuan, yaitu harus mengetahui, bagaimana pengetahuannya orang lain harus saling bergaul, harus persaudaraan, harus berhubungan, begitu juga mengadakan gerombolan atau perkumpulan, perkumpulan apapun perlu membicarakan hal-hal yang perlu dijalankan dengan bersama-sama, saling tolong-menolong dan saling mengingatkan antara satu dengan lainnya. Segala perkara yang akan dijalankan, hendaklah lebih dahulu dibicarakan dengan pelan-pelan, tidak berkeras hati, sabar harus menjadi dasar kami, putus asa harus kami lemparkan.


Bukan kepalang kegirangan hati kami, karena bangsa kita isteri di Hindia Timur sudah mengarah ke kemajuan, banyak yang mengadakan perserikatan-perserikatan, bahkan ada yang berikhtiar hendak mempersatukan perserikatan-perserikatan itu, sebagaimana adanya Kongres Perempuan Indonesia ini, agar supaya dapatlah kiranya kita bersama-sama membicarakan hal keperluan, kewajiban dan kemajuan kita bagi masyarakat umum seperti bangsa perempuan Indonesia, dan pula dapatlah pertaliannya antara bangsa perempuan Indonesia.


Cukuplah sudah pidato kami ini dan penutupnya kami berseru kepada sekalian saudara-saudara: Marilah, saudara-saudara, bersama-sama meneguhkan persaudaraan kami.


Kemudian, kami berdoa, mudah-mudahan Tuhan Allah memberi taufiq kepada kita sekalian dan diperbanyakkan faidahnya Kongres Perempuan Indonesia yang termulia ini bagi ketinggian dan persatuan bangsa kita: sehingga selamatlah kita semuanya.



Demikian informasi terkini Persatuan Manusia: Pidato ‘Aisyiyah dalam Kongres Perempuan Pertama 1928 – Berita , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *