Istiqamah dalam Menghadapi Kehidupan – Sang Pencerah – NewsMuh



news.tarjih.id memberikan info kekinian, Istiqamah dalam Menghadapi Kehidupan – Sang Pencerah

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar saudaraku?
Semoga sehat walafiat, dicurahkan rahmat, diberikan pelindungan dari Allah SWT. Amin!

Allah SWT berfirman,

الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka beristikamah, malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih! Gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat: 30)

Istikamah menjadi istlah yang lazim kita dengarkan, tetapi tidak semua orang paham maknyanya secara mendalam. Walaupun merupakan istilah agama Islam (dalam tauhid), istilah itu sering dipadankan dengan konsisten, konsekuen, dan teguh pendirian. Pengertian itu tidak salah, tetapi cakupannya bebeda.
Konsisten lebih pada kesesuaian dengan apa yang dikatakan dan yang diperbuat atau tidak menyimpang dari yang diputuskan, sedangkan konsisten tetap dan tidak berubah.

Istikamah ada hubungannya dengan mustaqim (orang yang istikamah; orang yang minta ketetapan; orang yang [berjalan] lurus). Karena itu, istikamah bermakna mencakupi semuanya sehingga dapat dipahami sebagai ‘sikap yang tetap berada di jalan yang lurus dan tidak berubah dalam situasi dan kondisi apa pun serta di mana pun berada’.

Istikamah penting di dalam kehidupan karena akan memperlihatkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang emas dan mana yang loyang, dan mana yang prinsip hidup atau bukan prinsip. Jika itu suatu kebenaran, kebenaran itu tetap tidak akan berubah walaupun di dalam situasi, kondisi, dan tempat yang berbeda. Jika itu emas, emas tidak akan berubah menjadi loyang atau perak kapan dan di mana pun. Jika itu sudah menjadi prinsip, prinsip itu tidak akan dapat berubah atau diganti dengan yang lain walau penggantinya lebih baik dari sisi keduniaan.

Istikamah dalam konteks ayat di awal berkaitan dengan akidah bahwa kalau seseorang sudah mengatakan Allah SWT sebagai Tuhan, sampai kapan pun, dalam situasi apa pun, dan di mana pun akan tetap mengatakan dan mengakui Allah sebagai Tuhannya. Sekali dia sudah betikrar sebagai seorang muslim, ikrar itu tetap dipertahankanya sampai akhir hayatnya. Apa pun godaan yang datang untuk mengubah keyakinan dan prinsip hidupnya tidak akan menggoyahkan akidahnya. Akidah adalah harga mati bagi seorang beriman. Manakala akidah Islam dipertahan dalam berbagai berbagai kondisi dan tempat seseorang akan selamat.

Hadis Rasulullah saw. ini menjelaskan peran istikamah dalan ber-Islam.

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullâh
ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istikamahlah” (HR Muslim No. 38, Ahmad 3/413, Tirmidzi No. 2410, dan Ibnu Majah No. 3972].

Orang yang istikamah tidak akan silau dengan godaan untuk mengganti akidahnya dengan akidah yang lain. Rayuan kekuasaan tidak akan menjadikan keyakinannya berubah. Tawaran kekayaan atau materi tidak akan mampu menjadikan imannya berganti dengan keimanan salah dan batil. Godaan wanita cantik atan pria ganteng untuk pasangan hidupnya tidak akan tergadai dengan berganti agama mengikuti iman calon istri/suaminya. Pendek kata, akidah tetap dijaga agar tidak rusak atau berubah walaupun ada keinginan duniawi yang datang menghampirinya.

Dalam berjuang mendakwahkan Islam, istikamah sangat dituntut agar Islam eksis di negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Tawaran kekuasaan tidak akan menghentikan tekadnya untuk memperjuangkan Islam. Suguhan sejumlah uang dan materi tidak akan membungkamnya untuk berpaling dari perjuangan Islam. Itulah orang istikamah dalam berjuang.

Ada sebuah ayat dalam surah Hud yang memerintahkan Rasulullah untuk istikamah.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka, istikamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud: 112)

Begitu dalam makna istikamah dalam surah itu sampai-sampai Rasulullah cepat beruban memikirkan ayat itu.

Kisahnya bahwa Rasulullah saw. didatangi oleh sahabatnya Abu Bakar Siddik. Kemudian, sahabatnya itu bertanya mengenai perubahan rambut beliau yang berlangsung begitu cepat sebelum waktunya.

Abu Bakar Siddik bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat rambutmu beruban?” Beliau menjawab, “Surah Hud (maksudnya ayat 112) beserta saudara-saudaranyalah yang membuatku beruban.”

Mendengar jawaban dari Rasulullah tersebut, Abu Bakar pun masih merasa penasaran. Kemudian, ia kembali bertanya, “Apa saja saudaranya?” Beliau menjawab, “Surah Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, An-Naba, dan At-Takwir. Semua membuatku beruban sebelum waktunya.” (HR Tirmidzi, Thabrani, dan Hakim)

Istikamah dalam beribadah pun penting dipertahankan. Selama Ramadan kita sudah dilatih dalam berbagai ibadah. Apa yang sudah manjadi ibadah andalan selama Ramadan dilakukan kembali secara konsisten di luar Ramadan. Itu merupakan wujud istikamahnya kita dalam beramal. Kalau biasanya rajin salat sunah seperti salat Duha, salat Rawatib, dan salat Malam, kita harus lebih rajin lagi melakukannya di luar Ramadan. Jika rutin membaca Al-Qur’an selama Ramadan, rutinitas itu harus dipertahankan selepas Ramadan. Begitu pula sedekah dan infaknya. Karena itu, istikamah itu dilakukan setiap waktu, tempat, dan aspek kehidupan.

Ada di antara manfaat istikamah

  1. Jaminan Allah untuk kehidupan yang baik
    Allah SWT Berfirman yang artinya, “Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97)
  2. Penjagaan dari Allah SWT
    Rasulullah saw.
    bersabda, ”Jagalah Allah (perintah dan larangan Allah). Maka, Allah akan menjagamu.” HR Tirmidzi) Lihat juga QS Fussilat: 30–31
  3. Kabar gembira dengan surga

Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah,” kemudian mereka beristikamah. Maka, malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih. Gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fussilat: 30–31)
Selain itu, mereka yang istikamah akan dimasukkan ke surga.

Allah SWT berfirman, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian dan pada hari Kiamat akan diberikan pahala kalian secara penuh. Maka, siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga sesungguhnya ia adalah sang pemenang, dan tidaklah kehidupan dunia, kecuali hanya kesenangan semu yang menipu.” (QS Ali Imran: 185)

Semoga dalam beragama kita istikamah. Hidup yang istikamah dapat memberi keselamatan kita di dunia dan akhirat. Kita jaga akidah kita agar tidah berubah, kita pertahankan Islam kita dalam kondisi apa pun dan di mana pun. Jangan sampai karena godaan dunia berupa kekuasaan, kekayaan, dan kemewahan, iman tergadaikan. Kita selalu berharap dalam salat paling tidak 17 kali dalam sehari dan semalam agar Allah SWT memberi jalan yang lurus dalam hidup kita: Ihdinash-shirathal mustaqim ‘Tunjuki kami jalan yang lurus’. Amin!

Wassalamualaikum wr. wb.

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899



Demikian info kekinian Istiqamah dalam Menghadapi Kehidupan – Sang Pencerah , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

#dirumahaja, Mahasiswa UMY Raih Juara Nasional – NewsMuh



news.tarjih.id memberikan info terbaru, #dirumahaja, Mahasiswa UMY Raih Juara Nasional

BANTUL — Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan perlu diisi dengan kegiatan bermanfaat. Namun dalam kondisi serba sulit karena dampak pandemi Covid-19 sekarang ini, membuat gerak menjadi terbatas. Tapi itu tidak berlaku bagi Nuha Haifa Arifin, mahasiswa jurusan Farmasi angkatan 2019 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Ia mengikuti lomba Pekan Lomba Ramadhan yang digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dan sukses menyabet gelar juara pada dua cabang sekaligus.

Pekan Lomba Ramadhan meliputi beberapa cabang lomba seperti Karya Cipta Puisi, Islamic Essay, Poster, Video Dakwah, dan Pildacil. Acara ini diselenggarakan Panitia Amaliyah Ramadhan 1441 H Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bertujuan melatih kemampuan remaja dan mahasiswa baik dalam hard skill ataupun soft skillnya.

Lomba yang dijuarai oleh mahasiswa UMY ini adalah Islamic Essay dan lomba poster. Kedua lomba ini diikuti mahasiswa seluruh Indonesia. Seluruh jenis perlombaan dilaksanakan secara online.

“Para peserta cukup membuat karya di rumah saja dan langsung mengirimnya melalui email. Untuk lomba poster dimulai pendaftarannya tanggal 4 Mei 2020 dan disusul dengan pengumpulan karyanya pada 10 Mei 2020,” tutur Nuha.



Demikian info terbaru #dirumahaja, Mahasiswa UMY Raih Juara Nasional , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Kajian Online Ramadhan 1441 H Universitas Muhammadiyah Malang – Edisi 20 Mei 2020 #1 – News.Tarjih.ID





Studi Online Ramadhan 1441 H Universitas Muhammadiyah Malang, dengan tema: Muhammadiyah dan Pembangunan Ekonomi Umat

Pembicara:
– Dr. Arif Budimanta (Staf Khusus Presiden)
– Dr. Nazaruddin Malik, M.Sc (Wakil Rektor II UMM)
– Dr. Mukhaer Pakkanna (Rektor ITB-AD)

Siaran Langsung dari Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM (UMM Dome Gate B), Rabu, 20 Mei 2020.



sumber: https://www.youtube.com/watch?v=gAA6mn9IwYA

Makna Nazhar dan Relasinya Dengan Akal (Bagian XX) – NewsMuh



news.tarjih.id menayangkan kabar terkini, Makna Nazhar dan Relasinya Dengan Akal (Bagian XX)

Matan HPT:
اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ كلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Syarah:
Kata Kunci: وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (Mereka berpendapat bahwa nashar (memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah), adalah wajib menurut ajaran Agama).
Secara bahasa, nazar bisa diartikan melihat, menunggu, bertemu, berfikir dan merenung.
Dalam ilmu kalam, nazar lebih identik dengan makna berfikir atau merenung atas sesuatu. Jika seseorang melihat benda, lalu bentuk benda muncul dalam gambaran otaknya, lalu mulai ada reaksi terhadap benda tersebut, bearti ia sudah mulai proses nazhar. Ia mulai berfikir dan membayangkan terhdap benda yang ada di hadapannya. Proses berfikir tadi, guna memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Oleh karena itu, Qadhi Abu Bakar menyatakan bahwa nazar merupakan proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan atau mendapatkan prasangka yang dekat dengan pengetahuan ilmu.
Nazhar bisa terkait dengan persoalan yang lebih luas. misalnya untuk memecahkan persoalan matematis, melihat gejala sosial untuk dianalisa, mengamati kejadian alam semesta, dan lain sebagainya. Karena nazhar sangat luas, maka proses nazhar juga luas. Nazhar umumnya melihat sesuatu secara spesifik sehingga lebih fokus. Dengan demikian, apa yang dihasilkan juga lebih sesuai dengan harapan. Karena nazhar cakupannya sangat luas, maka nazhar membutuhkan sarana yang benar. Sarana nazhar tadi, umum disebut dengan metodologi berfikir.
Para ulama kalam membagi nazhar menjadi dua, yaitu:

  1. Nazar terhadap sesuatu obyek dan permasalahan dengan cara pandang yang benar. Jika ini dilakukan, maka nilai yang dihasilkan akan benar. Contoh ketika ia memecahkan persoalan matematis dengan rumus-rumus yang sesuai. Hasilnya pun benar dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ketika ia meneliti tema lain, maka ia akan menggunakan metodologi lain yang sesuai dengan fokus bahasan.
  2. Nazar terhadap obyek persoalan, namun dengan sarana yang salah. Nilai yang dihasilkan, tentu akan salah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
    Syarat utama agar seseorang dapat melakukan nazar adalah akal. Tanpa adanya akal, seseorang tidak akan dapat melakukan proses berfikir. Oleh karena itu, nazhar hanya dapat dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia yang dapat berfikir dan membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang layak dan tidak. Dalam al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang memerintahkan kita untuk melakukan nazhar dengan melihat alam raya sehingga ada proses berfikir dalam otak manusia. Proses berfikir tadi, bertujuan untuk mengantarkan manusia kepada pengakuan adanya Sang Pencipta seperti firman Allah berikut ini:
    الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
    Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS:Ali Imran: 191)
    سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
    Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS:Fushshilat: 53).
    اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
    Artinya: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.” (QS:Ar-Ra’d: 2).
    خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
    Artinya: Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS. Luqman: 10).
    Dikatakan di atas bahwa syarat untuk proses berfikir (nazhar) adalah dengan akal pikiran. pertanyaannya, apakah akal itu? Menurut para filsuf, akal adalah esensi independen inmateri. ia wujud namun tidak berbentuk. Ia sebagai sarana ilmu pengetahuan. Para filsuf kadang melihat bahwa wujud yang lepas dari dunia materi, disebut dengan akal. Bahkan akal dianggap sebagai sumber atas sesuatu. Tuhan sendiri, mereka namakan sebagai akal pertama. wujud lain yang muncul, dianggap sebagai pancara atau bersumber dari akal pertama tadi.
    Menurut para filsuf, akal kadang diartikan sebagai potensi (quwah) yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan tertentu. Mereka menyebutnya dengan akal nazari (akal sebagai proses berfikir). Kadang diartikan sebagai potensi seseorang untuk dapat mengerjakan perbuatan yang bersifat partikular (juz’iy).
    Kalau akal dianggap sebagai potensi (bil quwah), apa bedanya dengan ruh? Akal (bil quwah) sepadan dengan potensi, sementara ruh adalah spirit atas sesuatu. Akal sebagai proses berfikir, dan ruh yang memberikan dorongan untuk melakukan proses pemikiran itu.
    Potensi (bil quwwah) sesungguhnya adalah istilah yang umum digunakan oleh para pakar mantik dan filsuf. Untuk mengidentifikasi sesuatu, kadang mereka menggunakan istilah bil quwwah dan bil fi’li. Bil quwwah adalah potensi yang ada pada diri seseorang. Bil fi’li adalah realita atau fakta yang terjadi di lapangan untuk mewujudkan potensi. Misal, manusia punya potensi (bil quwwah) untuk menjadi orang salih. Namun secara fakta (bil fi’li), tidak semua manusia menjadi orang shalih. Semua manusia mempunyai potensi untuk menjadi insinyur. Di alam nyata, banyak yang menjadi insunyur, namun tidak sedikit yang tidak bisa. Potensi seseorang untuk dapat melakukan perbuatan tertentu, oleh para filsuf disebut dengan istilah akal praktis (al-aqlu al-amaliy).
    Kadang manusia mempunyai potensi terpendam. Potensi itu akan muncul manakala diasah dan dilatih. Dengan kebiasaan tersebut, seseorang bias menjadi professional di bidangnya. seseorang yang punya potensi untuk menjadi penulis, lalu ia belajar dan berlatih menulis, dengan potensi dan latihan tersebut, ia bisa menjadi penulis professional. Potensi terpendam tersebut, oleh para filsuf dinamakan dengan al-aqlu alheoulany. Jika sudah dapat menulis namun belum dapat menyusun struktur kalimat secara benar, sehingga belum dapat mengungkapkan apa yang ada dalam otak dia, maka disebut aqlun bilmilkah. Jika sudah bisa, disebut aqlun bil fi’li. Akal kadang diartikan sebagai potensi mendapatkan ilmu tanpa proses belajar. Ini disebut sebagai akal suci. Tradisi Masyarakat secara umum menggunakan istilah akal bagi mereka yang sehat secara rahani. Akal juga dianggap sebagai tempat manusia menerima beban syariah.
    Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama kalam tentang arti akal. Perbendaan pendapat ini nantinya berimplikasi atas pertanyaan apakah baik dan buruk dapat diketahui melalui akal. Muktazilah menganggap bahwa akal adalah tempat di mana manusia dapat mengetahui dan membedakan antara perbuatan baik dan buruk secara independen. Dengan akal, sesuatu yang baik akan dikatakan baik, dan sesuatu yang buruk akan dikatakan buruk. Sebagian kalangan muktazilah mendefinisikan akal sebagai sesuatu yang dapat membedakan terbaik dari dua kebaikan dan terburuk dari dua keburukan. Pendapat ini berdasarkan kepada sikap dan prinsip mereka yang menyatakan bahwa baik buruk manusia dapat diketahui dengan akal.
    Menurut kalangan khawarij, akal adalah sesuatu yang dapat memikirkan perintah Allah dan larangannya. Pendapat ini lemah, karena mendefinisikan akal dengan kata-kata akal (memikirkan). Pendapat ini juga dianggap menafikan akal bagi orang yang belum menerima dakwah Islam, atau anak kecil yang belum baligh sehingga belum menerima beban taklif.
    Menurut Abu Ishaq yang bermazhab Asyariy, akal adalah ilmu. Hanya pendapat ini banyak mendapatkan kritikan, di antaranya adalah bahwa mendefinisikan akal dengan ilmu, dianggap tidak membedakan antara orang yang telah memperoleh banyak ilmu, dengan orang yang baru mendapatkan sedikit ilmu. Keduanya sama-sama disebut sebagai orang yang berilmu. Padahal di masyarakat, konotasi orang yang berilmu adalah mereka yang berpengetahuan luas.
    Imam Haramain, salah seorang ulama dari madzhab Asyari menyatakan bahwa akal adalah insting untuk dapat mencapai pada pengetahuan tertentu. Lalu beliau membagi ilmu menjadi dua yaitu ilmu qadim atau ilmu baharu (hadis). Hanya pendapat ini juga banyak mendapatkan kritikan. Jika ilmu harus dari akal, kemudian membagi ilmu menjadi qadim dan baharu (hadis), Imam Haramain sama saja dengan membagi akal menjadi qadim dan baharu (hadis). Sementara akal, semuanya baharu (hadis). Kecuali pendapat para filsuf yang menyatakan bahwa Tuhan adalah akal pertama dan sifatnya qadim.
    Sebagian ulama Asyari menyatakan bahwa akal adalah sebagian dari ilmu daruri. Yang dimaksudkan dengan ilmu dharuri adalah ilmu yang dimiliki manusia tanpa proses berfikir. hal itu, karena sesuatu yang ada tersebut sudah jelas dan sifatnya aksiomatis seperti pengetahuan manusia bahwa api itu panas, langit di atas, dan bumi di bawah.
    Imam Amidi dalam kitab al-Ibkar fi Ushuliddin menanggapi pendapat yang menyatakan akal merupakan bagian dari a’radh. Menurut Imam al-Amidi bahwa jika akal dianggap sebagian dari a’rad, ada dua kemungkinan. Bisa jadi ia adalah ilmu atau bukan ilmu. Jika akal bukan ilmu, pendapat ini tertolak karena orang yang tidak berilmu, nantinya tetap akan disebut sebagai orang yang berakal. Jika akal maknanya seluruh ilmu pengetahuan, bearti orang yang hanya mengetahui sebagian ilmu saja tidak bisa disebut sebagai orang yang berakal.

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899



Demikian kabar terkini Makna Nazhar dan Relasinya Dengan Akal (Bagian XX) , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Idul Fitri Saat Pandemi, Menguji Ketaatan Diri – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terkini, Idul Fitri Saat Pandemi, Menguji Ketaatan Diri



SURYAGEMILANGNEWS.COM, Mertoyudan – Setiap perayaan hari besar agama maka setiap manusia yang beragama dituntut untuk mampu berfikir dalam rangka menggali makna dan hikmah yang ada didalamnya. Hal tersebut menjadi penting sebagai proses muhasabah (intropeksi diri) terhadap perjalanan hidup yang telah dijalani untuk kepentingan perbaikan dimasa yang akan datang. Demikian disampaikan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Jumari pada Senin 25/05 di rumahnya Jalan Nanas IV No.59 Perumnas Kalinegoro, Mertoyudan Kabupaten Magelang.
Idul Fitri 1441 H ini sangat istimewa, ada situasi yang berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya. Penetapan status darurat yang ditetapkan pemerintah masih berlaku akibat pandemi virus Coronavirus Disease (Covid-19) yang belum mereda. Pemerintah dan juga beberapa organisasi keagamaan termasuk Muhammadiyah telah membuat himbauan berupa edaran resmi terkait protokol yang harus dipatuhi dalam aktifitas kegiatan keseharian termasuk dalam hal ini aktifitas ibadah.
Bagi yang taat pada protokol kesehatan maka sebenarnya hal ini merupakan kesempatan untuk menghayati secara mendalam ibadah ramadhan dan juga idul fitri. Ketaatan kepada protokol kesehatan merupakan perwujudan sikap rendah hati, kehidupan pribadinya akan lebih tertata dalam menghargai sesama.
Energi hidupnya lebih bermakna dan berguna, karena tidak perlu mencari cara untuk membenarkan pendapatnya masing-masing. Taat pada aturan termasuk dalam hal ini himbauan protokol kesehatan adalah perwujudan kesholehan sosial karena merupakan bentuk sikap mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tersebut menambahkan bahwa sibuk mencari pembenaran pendapat sendiri akan menghabiskan energi yang tentu akan menjadi sia-sia dan justru merugikan kepentingan umum. Lebih baik memanfaatkan kesempatan banyak di rumah bersama keluarga untuk proses muhasabah, mawas diri dan merencanakan masa depan.
“ Jadikan perayaan Idul Fitri tahun ini sebagai forum uji ketaatan diri menjadi hamba Allah dalam sunyi, tanpa ada sanjung puji dan akhirnya terbukti menjadi pribadi yang asli, selain itu Idul Fitri di tengah pandemi ini juga menjadi media pembelajaran bagi umat untuk benar- benar menjadi manusia yang tidak hanya sholeh secara pribadi akan tetapi juga sholeh secara sosial yang akhirnya akan mengantarkan menjadi hamba Allah yang sejati” katanya.



Demikian berita terkini Idul Fitri Saat Pandemi, Menguji Ketaatan Diri , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Rubah Di Balik Seragam – NewsMuh



news.tarjih.id menyuguhkan informasi kekinian, Rubah Di Balik Seragam

Hafara el Quds am sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi gelintiran bakso di gerobakku masih saja penuh. Biasanya jam segini aku sudah tinggal menghitung untung di rumah. Padahal badanku sudah lelah, rasa kantuk juga sudah mulai menyerangku. Aku teringat kata Pak Bejo, pemilik rumah yang ku kontrak, “Kalau tidak bisa melunasi kontrakan bulan kemarin sama […]

The post Rubah Di Balik Seragam appeared first on Sang Pencerah.



Demikian informasi kekinian Rubah Di Balik Seragam , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi