Sejarah Berdirinya Muhammadiyah di Nusantara || Ustadz Adi Hidayat Lc MA – News.Tarjih.ID





tautan studi selengkapnya:

Tautan Intro:

Deskripsi ————————————————- —–

Sumber ————————————————- ——-

Allah Subhanahu Wata & # 39; ala

Pembicara: Ustadz Adi Hidayat Lc MA

Saluran TV Akhyar:

saluran al ummah Banjarmasin:

+ Sebarkan dengan tujuan Da, mungkin Amal Jariyah. Barakallahu Fiikum.

Jazakumulllahukhaira ——————————————–

Media sosial:

FB:

www.akhyar.tv
www.madanitv.net



sumber: https://www.youtube.com/watch?v=xZXwZ_0n9Jo

Mencampuradukkan Ajaran Imam-Imam Mazhab – Suara Muhammadiyah – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terbaru, Mencampuradukkan Ajaran Imam-Imam Mazhab – Suara Muhammadiyah

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Saya pernah mengikuti pengajian  fiqih masail sehubungan dengan masalah mazhab, ada pernyataan dari narasumber bahwa kita harus bermazhab. Kita tidak boleh mencampuradukkan beberapa pendapat Imam mazhab dalam satu ibadah. Misalkan dalam bab shalat itu prakteknya harus satu mazhab. Contoh: Tidak boleh jika membaca basmalah dengan  jahr kemudian tidak qunut.

Was-salamu ‘alaikum wr. wb.

Rusman, Ketua PCM Masamba Kab. Luwu Utara, Sulawesi Selatan

(Disidangkan pada hari Jum’at, 6 Zulhijjah 1434 H / 11 Oktober 2013)

Jawaban:

Saudara Rusman yang budiman, terima kasih atas pertanyaan anda. Pertanyaan yang hampir sama pernah pula diajukan ke Tim Fatwa Majelis Tarjih dan telah dijawab serta dimuat di rubrik Tanya Jawab Agama Majalah Suara Muhammadiyah No. 17 tahun 2008. Namun demikian, agar lebih dipahami kami coba sampaikan kembali persoalan tersebut di bawah ini.

Mazhab berasal dari bahasa arab مَذْهَبٌ dari akar kata ذَهَبَ (ża-ha-ba) yang berarti jalan, tempat yang harus dilalui, perjalanan, pendapat, pendirian, paham, pegangan, aliran juga bermakna sekte atau doktrin. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mazhab diartikan sebagai haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.

Dalam fikih, mazhab dimaknai sebagai jalan fikiran, pemahaman dan pendapat yang ditempuh oleh seorang mujtahid dalam menetapkan suatu hukum Islam dari sumber al-Qur’an dan as-Sunnah. Mazhab juga diartikan sebagai fatwa atau pendapat ulama dalam urusan agama. Mazhab dalam fikih banyak jumlahnya, namun yang masyhur ada empat mazhab yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali. Mazhab-mazhab ini mulai berkembang pada era pemerintahan Dinasti Abbasyiyah, yaitu pada kurun ke-2 H (8 M).

Mengenai keharusan bermazhab dalam beragama, sebenarnya para imam mazhab tidak pernah memberi perintah agar umat Islam berpegang kepada paham mereka. Bahkan sebaliknya, para imam mazhab justru menyuruh untuk mengikuti mana saja yang benar meskipun itu pendapat dari mazhab lain. Hal ini didasarkan pada perkataan para imam mazhab tersebut,

  1. Imam Abu Hanifah: “Apabila aku mengatakan sesuatu pendapat yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw, maka tinggalkanlah pendapatku tersebut”.
  2. Imam Malik bin Anas: “Aku hanyalah seorang manusia yang (mungkin) salah dan (mungkin) benar. Oleh karena itu perhatikanlah pendapatku, selama sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka ambillah (gunakanlah), namun selama tidak sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah”.
  3. Imam asy-Syafi’i : “Apabila engkau menemukan dalam kitab (pendapat)-ku menyelisihi sunnah Rasulullah saw, maka katakanlah (ikutilah) yang disampaikan oleh Rasulullah saw dan tinggalkanlah apa yang aku katakan (pendapatku)”.
  4. Imam Ahmad: “Janganlah engkau taqlid (ikut-ikutan) kepadaku, kepada Imam Malik, kepada Imam asy-Syafi’i, kepada Imam Auza‘i dan Imam ats-Tsaury, Tetapi ambillah (ikutilah) dari mana mereka mengambilnya (yaitu al-Qur’an dan al-Hadis)”.

Pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup, ketika umat menjumpai suatu persoalan dapat langsung bertanya kepada beliau untuk memperoleh jawabannya. Nabi saw terkadang menunggu wahyu al-Quran yang turun berkenaan dengan persoalan tersebut dan terkadang menjawab dengan sunnah, baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir beliau. Adapun jawaban Nabi saw. itu, pada hakikatnya tidak terlepas pada petunjuk Allah sesuai dengan al-Quran surah an-Najm (53) ayat 3-4 yang berbunyi,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ.

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Namun, setelah Nabi Muhammad saw. wafat wahyu tidak turun lagi, sehingga jika terjadi persoalan hukum para sahabat akan mencari ketetapan hukum di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Apabila tidak terdapat dalam keduanya, maka mereka berijtihad sendiri dengan bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah. Ijtihad yang dilakukan para sahabat ini sesuai firman Allah Swt dan sabda Nabi Muhammad saw.,

  1. Surah an-Nisa (4) ayat 59,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

  1. Surah al-An’am (6) ayat 153,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ  ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”.

  1. Hadis Rasulullah saw. dari Abu Mus’ab,

أَخْبَرَنَا أَبُو مُصْعَبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ؛ أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ , وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلى اللهُ عَلَيه وَسَلم.

“Abu Mus’ab berkata, Malik telah menceritakan kepada kami, sesungguhnya beliau (Malik) menceritakan pada Mus’ab, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Aku meninggalkan pada kalian dua hal, tidaklah kalian tersesat jika kalian berpegang pada keduanya yakni: Kitab Allah (al-Quran) dan Sunnah Rasulullah saw.” [Al-Muwattha’, Imam Malik]

  1. Hadis Rasulullah saw. dari Muadz bin Jabal.

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي عَوْنٍ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرِو ابْنِ أَخِي الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللهِ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِي أَبُو عَوْنٍ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ.

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar dari Syu’bah dari Abu ‘Aun dari al-Harits bin ‘Amru anak saudara al-Mughirah bin Syu’bah, dari beberapa orang penduduk Himsh yang merupakan sebagian dari sahabat Mu’adz bin Jabbal. Bahwa Rasulullah saw. ketika akan mengutus Mu’adz bin Jabbal ke Yaman beliau bersabda: “Bagaimana engkau memberikan keputusan apabila ada sebuah peradilan yang dihadapkan kepadamu?” Mu’adz menjawab, “Saya akan memutuskan menggunakan Kitab Allah.” Beliau bersabda: “Seandainya engkau tidak mendapatkan dalam Kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Saya akan kembali kepada sunnah Rasulullah saw..” Beliau bersabda lagi: “Seandainya engkau tidak mendapatkan dalam Sunnah Rasulullah saw. serta dalam Kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Saya akan berijtihad menggunakan pendapat saya, dan saya tidak akan mengurangi.” Kemudian Rasulullah saw. menepuk dadanya dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah untuk melakukan apa yang membuat senang Rasulullah.” Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aun dari al-Harits bin ‘Amru dari beberapa orang sahabat Mu’adz dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah saw. tatkala mengutusnya ke Yaman, kemudian ia menyebutkan maknanya.”

Sepanjang penelusuran kami, belum didapati nash baik al-Quran ataupun al-Hadis yang memerintahkan kepada umat Islam untuk bermazhab, yang ada adalah perintah untuk mengikuti apa yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah. Namun demikian, tidak boleh diingkari bahwa para imam mazhab adalah ulama yang sangat mumpuni dalam ilmu agama dan sangat besar jasanya dalam mengembangkan ilmu-ilmu keislaman, sehingga pendapat-pendapat mereka tidak dapat dikesampingkan begitu saja dalam menentukan hukum persoalan keagamaan. Salah satu butir pokok manhaj Tarjih Muhammadiyah adalah tidak mengikatkan diri kepada suatu mazhab, tetapi pendapat-pendapat mazhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum, sepanjang sesuai dengan jiwa al-Quran dan as-Sunnah atau dasar-dasar lain yang dipandang kuat.

Adapun pertanyaan saudara tentang mencampuradukkan pendapat mazhab, dalam kajian fikih disebut dengan talfiq. Pada Putusan Munas Tarjih ke-25 tahun 2000 di Jakarta tentang Manhaj Tarjih Muhammadiyah, disebutkan bahwa talfiq adalah menggabungkan beberapa pendapat dalam satu perbuatan syar‘i. Talfiq terjadi dalam konteks taqlid (mengikuti pemikiran ulama tanpa mengetahui dalil dan argumentasinya) dan ittiba‘ (mengikuti pemikiran ulama dengan mengetahui dalil dan argumentasinya). Muhammadiyah membenarkan talfiq sepanjang telah dikaji lewat proses tarjih. Tarjih, secara teknis adalah proses analisis untuk menetapkan hukum dengan menetapkan dalil yang lebih kuat (rajih), lebih tepat analogi dan lebih kuat mashlahatnya. Adapun secara institusional Tarjih adalah lembaga ijtihad jama‘i (organisatoris) di lingkungan Muhammadiyah yang beranggota orang-orang yang memiliki kompetensi ushuliyyah dan ilmiah dalam bidangnya masing-masing.

Bagi warga Muhammadiyah, dalam menjalankan hukum agama Islam minimal adalah memilih sikap ittiba’, yakni mengikuti keputusan persyarikatan dalam bidang agama, misalnya persoalan yang dimuat dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), dengan mengetahui dalil maupun cara istinbat (pengambilan) hukumnya. Adapun talfiq, boleh digunakan setelah melalui proses tarjih yang dilakukan oleh Majelis Tarjih.

Mengenai contoh yang saudara sebutkan, perlu diketahui bahwa dalam persoalan ibadah, khususnya tata cara shalat, Muhammadiyah memedomani beberapa kaidah tentang hadis sebagaimana yang tercantum dalam Himpunan Putusan Tarjih: Kitab Beberapa Masalah nomor 21 Usul Fiqih (lihat HPT, hal 302-303), bukan berdasarkan pendapat mazhab tertentu. Dalam hal bacaan basmalah, menurut Muhammadiyah basmalah pada surah al-Fatihah dalam shalat boleh dibaca sirr dan boleh pula di baca jahr (Keputusan Munas Tarjih ke-27 di Malang tahun 2010). Sementara masalah qunut subuh, Muhammadiyah berpandangan bahwa dalil-dalil tentang qunut subuh tidak memenuhi kriteria sebagai hadis yang dapat diterima sebagai hujjah, sebagaimana tercantum dalam Himpunan Putusan Tarjih: Kitab Putusan Tarjih Wiradesa butir V Qunut (lihat HTP, hal 377-379).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 19 Tahun 2016



Demikian Informasi terbaru Mencampuradukkan Ajaran Imam-Imam Mazhab – Suara Muhammadiyah , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Mengulik Isu Pendidikan Indonesia di Pembukaan Taruna Melati 3 IPM DIY – Ikatan Pelajar Muhammadiyah – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terbaru, Mengulik Isu Pendidikan Indonesia di Pembukaan Taruna Melati 3 IPM DIY – Ikatan Pelajar Muhammadiyah

IPM.OR.ID, YOGYAKARTA Pelatihan Kader Madya Taruna Melati 3 (PKM-TM) IPM DIY resmi dibuka pada hari Ahad (12/01) bertempat di Gedung DPD RI D.I. Yogyakarta. Acara pembukaan tersebut dihadiri oleh puluhan pelajar Muhammadiyah di DIY dan juga dari organisasi poros pelajar, seperti PW PII Yogyakarta Besar dan PW IPPNU DIY. Adapun TM 3 IPM DIY kali ini mengusung tema “Membumikan Aksiologi Pelajar Berdaulat”

Ahmad Hawari Jundullah, Ketua Umum PW IPM DIY mengungkapkan harapan sekaligus membakar semangat bagi para peserta dan tamu undangan, “Kita disini sebagai pelajar DIY yang punya keistimewaan sebagai kota pelajar, sudah sepatutnya kita harus membuktikan, bahwa yang harus ditonjolkan dari pelajar adalah segi intelektualitas, spiritualitas dan religiusitas,” ungkapnya.

Kemudian, Ketua PP IPM Bidang Perkaderan, Monica Subastia dalam sambutannya turut mengapresiasi atas terselenggaranya PKM-TM 3 IPM DIY kali ini, “Saya ucapkan selamat kepada PW IPM DIY atas terselenggaranya PKM-TM 3. Semoga setelah TM 3 ini, para peserta mampu membumikan ‘Gerakan Pelajar Berdaulat’ di daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Usai prosesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan agenda Collaboratalk yang mengusung tema “Pelajar sebagai Subjek Pendidikan Indonesia” Adapun pemantik yang dihadirkan, antara lain Drs. Muhammad Afnan Hadikusumo (Anggota DPD RI Perwakilan DIY), Muhammad Khoirul Huda, M.Pd. (Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah), dan Iman Sumarlan, S.IP, M.H.I. (MPK PWM DIY).

Dalam keynote speech-nya, Afnan memotivasi para peserta TM 3 dan para pelajar DIY, bahwa hal yang terpenting dalam kehidupan ini adalah kemandirian. Selagi masih muda dan masa depan masih panjang, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan cari pengalaman sebanyak-banyaknya seperti agenda TM 3 ini.

Sementara itu, Muhammad Khoirul Huda dari Dikdasmen PP Muhammadiyah turut memaparkan pendapatnya mengenai pendidikan di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa pelajar mulai berserikat atas nama ideologi ketika mereka mulai mengenakan seragam..

“Walaupun menurut PISA, tingkat literasi Indonesia masih rendah, akan tetapi masyarakat Indonesia memiliki tingkat melek baca yang cukup bagus,” jelas Huda.

Sehubungan dengan hal itu, Iman Sumarlan menjelaskan mengenai sembilan persoalan pendidikan yang meliputi regulasi standar nasional pendidikan yang masih menggantung, pergantian kurikulum, carut marut kebijakan ,undang-undang pendidikan, digitalisasi pendidikan, pendidikan karakter, sistem penganggaran, pengadaan sekolah yang tidak seragam/standar, sistem belanja sekolah, masa depan buku pendidikan, pengembangan budaya literasi dengan program menulis dan meringkas. Iman mengungkapkan jika Kurikulum 2013 (Kurtilas) itu sudah bagus karena sesuai dengan pelajar abad 21. Selain itu, beliau juga menjelaskan terkait digitalisasi pendidikan, dalam hal ini seorang guru tetap tidak bisa digantikan oleh teknologi karena guru akan menjadi teladan bagi para pelajar.

“Seharusnya buku digratiskan. Buku apa saja, baik buku pelajaran maupun non-pelajaran, hal ini dilakukan agar bisa meningkatkan literasi di kalangan pelajar,” ujar Iman Sumarlan di akhir sesi bincang-bincang.

PKM TM 3 IPM DIY diikuti oleh 38 peserta, dari dalam dan luar DIY dan akan diselenggarakan pada tanggal 12-17 Januari 2020. *(dzik/fid)

Yuk Bagikan Tulisan ini !!!



Demikian Informasi terbaru Mengulik Isu Pendidikan Indonesia di Pembukaan Taruna Melati 3 IPM DIY – Ikatan Pelajar Muhammadiyah , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Mengembangkan Perpus Terintegrasi, Pustakawan PTMA Sumut-Aceh Gelar Musywil dan Rakor – Suara Muhammadiyah – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terbaru, Mengembangkan Perpus Terintegrasi, Pustakawan PTMA Sumut-Aceh Gelar Musywil dan Rakor – Suara Muhammadiyah

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melalui UPT Perpustakaan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musyawarah Wilayah (Musywil) dan Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (FPPTMA) Korwil Sumut-Aceh yang diselenggarakan, Rabu (22/1).

Rektor UMSU diwakili Wakil Rektor II, Dr Akrim, MPd mengatakan Musywil dan Rakor ini merupakan agenda penting untuk memikirkan dan mengembangkan perpustakaan. UMSU secara berlahan-lahan terus mengembangkan walaupun sesungguhnya dengan perkembangan teknologi informasi sudah mengalihkan perhatian kepada beberapa akses yang dimiliki untuk mempermudah siapa saja membaca.

“Kita masih membutuhkan pengunjung perpustakaan yang banyak tetapi tidak harus datang. Kita harus menyiapkan satu sistem dimana orang kapan dan dimana siapa saja bisa membaca. Maka akses harus disiapkan dan mendorong semua mahasiswa perguruan tinggi Muhammadiyah masing-masing harus memiliki sistem akses yang baik,” katanya.

Akrim  menjelaskan saat ini UMSU telah mengembangkan sistem perpustakaan yang terintegrasi dari tiga kampus seperti Kampus Pascasarjana di Jalan Denai, Kampus Fakultas Kedokteran di Jalan Gedung Arca dan Kampus Utama di Jalan Muktar Basri. “Semua perpustakaan menjadi satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. Maka untuk mengakses semua koleksi yang ada maka dibuat system dan dikembangkan peralihan hardcopy menjadi e-book yakni dengan pengembangan perpustakaan digital. Semua demi untuk mengatasi keterbatasan tempat,” katanya.

Peningkatan SDM juga menjadi perhatian. Ke depan,UMSU tidak lagi menerima pegawai perpustakaan yang tidak pustakawan karena tugas pustakawan dan berat. Maka dibutuhkan basic skill yang baik supaya dalam memberikan pelayanan bisa benar-benar maksimal.

Dia juga meminta pengelola perpustakaan bisa memanfaatkan kemajuan teknologi dengan memanfaatkan akses-akses yang ada dimana banyak tersedia koleksi buku-buku yang gratis sehingga bisa efisiensi anggaran. “Akses inilah yang kita cari. Di sinilah dibutuhkan kerja sama sebuah organisasi seperti forum ini. Saya berharap buku-buku gratis yang bisa diakses di UMSU di-share ke teman-teman PTM lain, sebalik yang ada di PTM lain diberikan ke UMSU. Ini dalam rangka bekerja sama,” katanya.

Musywil dan Rakor dihadiri 17 peserta dari perwakilan 8 PTM Korwil Aceh. Adapun perwakilan yang hadir UPT Perpustakaan UMSU (7 peserta), Universitas Muhammadiyah Aceh (2 peserta), Universitas Muhammadiyah Tapsel (1 peserta), Stikes Muhammadiyah Aceh (1 peserta), Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Asahan (2 peserta), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Asahan (1 peserta), Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Sibolga (2 peserta). Stikes Muhammadiyah Lhokseumawe (1 peserta). Turut hadir dan memberi sambutan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PW Muhammadiyah Sumut, Syaiful Hadi.

Ketua MPI Sumut, Syaiful Hadi mengatakan semangat literasi harus terus ditumbuhkan di kalangan warga Muhammadiyah karena merupakan amanah yang terkandung dalam Al-Qur’an yakni perintah Iqra.

Dia berharap kampus harus menjadi peningkatan kajian-kajian keilmuan. “Saya beharap pertemuan ini bisa menghasilkan keputusan dan ide-ide cemerlang yang dapat dibawa ke kegiatan tingkat nasional,” harapnya.

Pada Musywil dan Rakor tersebut juga dilakukan penandatangan kerja sama UPT Perpustakaan UMSU dengan semua perwakilan FPPTMA Korwil Sumut-Aceh dan antarpeserta lain yang difasilitasi UPT Perpustakaan UMSU. Acara diakhiri dengan foto bersama dan library tour ke Perpustakaan Universitas Negeri Medan (Unimed) dan Observatorium Ilmu Falaq (OIF) UMSU. Pada Musywil dan Rakor terpilih Kepala UPT Perpustakaan UMSU sebagai Ketua Korwil FPPTMA Sumut-Aceh. (Syaifulh/Riz)



Demikian Informasi terbaru Mengembangkan Perpus Terintegrasi, Pustakawan PTMA Sumut-Aceh Gelar Musywil dan Rakor – Suara Muhammadiyah , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

AMM Tanggulangin Gelar Kajian Milenial, Ada 6 Pesan – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terbaru, AMM Tanggulangin Gelar Kajian Milenial, Ada 6 Pesan

Pasang Iklan Murah

PWMU.CO–AMM Tanggulangin mengadakan kajian milenial rutin tiap dua pekan sekali di Masjid KH Ahmad Dahlan Pasar Wisata Tanggulangin Wates, Ahad (19/1/2020).

Tema kajian kali ini yaitu selagi
muda, azzam masih membara dengan pemateri Ustadz Muhammad Buadi MPdI.

Dalam ceramahnya Ustadz Buadi mengatakan,
Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) agar menjadikan Alquran sunnah sebagai sumber
rujukan utama. Bukan dari buku-buku orang atheis, komunis bahkan liberal.

Dia menjelaskan tentang enam kekuatan
yang harus dimiliki seorang mukmin. Pertama, memiliki kekuatan iman. Kedua,
memiliki kekuatan ilmu. Ketiga, memiliki kekuatan akhlak atau budi pekerti. 

”Keempat, memiliki kekuatan ekonomi. Kelima,
memiliki kekuatan untuk berjuang. Terakhir keenam, memiliki kekuatan untuk
bersilaturahim,” ujarnya.

Sedangkan resep untuk menjadi anak muda yang tangguh, dia menyebutkan, dengan kuatnya akidah, semangat belajar ilmu agama, rajin beribadah, serta berakhlak mulia. “Semoga kajian milenial AMM Tanggulangin ini bisa istiqomah dan  beramal nyata,” tuturnya.

Ketua Bidang Tabligh PCPM Tanggulangin M. Fachruddin mengatakan, nafas dari perjuangan dakwah yaitu dengan keilmuan yang kuat dan amal yang nyata oleh karena itu kaum milenial harus istiqomah dalam mengikuti kajian yang diadakan AMM.

“Kami harap kajian milenial AMM Tanggulangin ini menjadi lokomotif gerakan, dalam mempersiapkan strategi dakwah yang efektif,” katanya.

“Karena IPM, NA, Pemuda
Muhammadiyah, HW, Tapak Suci sebagai penerus perjuangan Muhammadiyah yang akan
datang,” sambungnya.  (*)

Penulis M. Fachruddin  Editor Sugeng Purwanto



Demikian Informasi terbaru AMM Tanggulangin Gelar Kajian Milenial, Ada 6 Pesan , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Qasidah Muhammadiyah – Ukir Mall – News.Tarjih.ID





Majlis Ijtima Qasidah dan Peringatan di Carving Mall,
bersama dengan Habib Muhammaad bin Abdul Qadir Al-Ahdal, Dewan Pengawas Darul Ulum, Hudaidah
dan Syekh Yusuf Awang, Naib Mudir Darul Hadis

Lirik dan terjemahan

Instagram:
Facebook:



sumber: https://www.youtube.com/watch?v=KoBifIveU04

Sosok yang Gemar Membaca – Suara Muhammadiyah – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terbaru, Sosok yang Gemar Membaca – Suara Muhammadiyah

Siapa yang tidak kenal dengan Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih populer dengan nama penanya, Hamka. Semua orang tentu sudah sangat familiar dengan nama legendaris tersebut, entah dari buah emas pikiran yang tertulis dalam buku-buku atau dari suara yang senantiasa mengingatkan manusia untuk kembali kepada jalan Tuhan-nya.

Banyak yang menyebutnya sebagai seorang ulama, cendikiawan, sekaligus juga sastrawan. Gagasannya tidak hanya terhenti pada lisan maupun tulisan, namun juga terejewantahkan dalam sikap pilitik kebangsaan. Manusia penuh kebijaksanaan yang tak pernah merawat dendam kepada siapapun. Jiwa kesederhanaan yang melekat kuat pada hidupnya, menumbuhkan cinta kepada siapapun yang mengenalnya. Menjunjung tinggi rasa hormat kepada siapa saja yang berbeda. Sosok yang berilmu tinggi namun rendah hati.

Hamka begitu transparan dalam memori publik, sebab seluruh isi pikiran dan perjalanan hidupnya terbaca terang dalam hamparan karyanya yang tidak kurang dari 115 buku, dan tidak kurang 195 buku yang terkait dengan Hamka yang hingga kini beredar di masyarakat. Karya ini belum termasuk seluruh tulisan Hamka yang tercecer dalam media yang terbit di seluruh Nusantara sejak dirinya remaja hingga wafatnya.

Siapa mengira bahwa Hamka tidak pernah menuntut ilmu secara formal, apalagi lulus dari Universitas Al-Azhar yang merupakan tujuan pilihan banyak pelajar di seantero dunia. Dikutip dari majalah Suara Muhammadiyah edisi ke-17 tahun 2018 bahwa dirinya mengaku tidak lulus sekolah paling rendah sekalipun.

Namun untuk menutupi kekurangannya tersebut, Hamka adalah sosok yang sangat gemar membaca. Sejak kecil, Hamka sudah keranjingan membaca. Ketika Hamka kecil tahu bahwa gurunya Zaenuddin Labay El Yunusy membuka Bibliotek, yaitu tempat penyewaan buku, maka Hamka selalu menyewanya setiap hari. setelah membaca Hamka selalu menyalinnya kembali dengan tulisan sendiri. Ketika uangnya habis, Hamka selalu membantu pekerjaan di percetakan, dan imbalan yang dipintanya yaitu diperbolehkan membaca buku.

Termasuk ketika Hamka naik haji dan menetap di Makkah, untuk menyambung hidupnya karena perbekalan sangat terbatas, Hamka bekerja di percetakan kitab. Disana pula Hamka tenggelam dalam lautan ilmu. Ratusan kitab dibacanya. Di tempat itu Hamka antara bekerja dan menuntut ilmu.

Walaupun tidak menamatkan satu pun pendidikan formal, namun cara belajar yang otodidak (banyak membaca) dan berguru langsung kepada tokoh-tokoh tertentu membuat Hamka memiliki keluasan pengetahuan, kedalaman ilmu, dan keluhuran budi. Lalu bagaimana dengan kita yang dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ada. Apakah kita bisa lebih baik dari Buya Hamka atau malah sebaliknya. Hanya diri kita sendiri yang bisa menentukannya.(diko)



Demikian Informasi terbaru Sosok yang Gemar Membaca – Suara Muhammadiyah , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Kemenhan Impor Kapal Panjang Ocean Going – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terbaru, Kemenhan Impor Kapal Panjang Ocean Going

Kemenhan Impor Kapal Panjang Ocean Going
Kemenhan Impor Kapal Panjang Ocean Going. Iver Huitfeldt Class

close

JAKARTA, MENARA62.COM — Kemenhan impor kapal panjang ocean going. Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengimpor kapal panjang ocean going (berukuran 150 meter) dari Denmark. Kapal seharga Rp 4,5 triliun yang dibeli RI kali ini, merupakan jenis yang paling sukses di abad 21.

Meski belum tentu berhubungan, namun pembelian ini tampaknya memang direncanakan untuk memperkuat pertahanan laut Indonesia. Apalagi, beberapa waktu lalu, publik Indonesia sempat dihebohkan dengan masuknya kapal dari China ke Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Perairan Natuna. Banyak yang mengecam tindakan tersebut. Salah satu alasan masuknya kapal China ke perairan RI karena armada patroli yang terbatas.

Upaya pembelian kapal panjang dari Denmark itu diyakini sedikit banyak bisa memperkuat laut Indonesia. Selama ini kapal-kapal patroli yang dimiliki RI belum cukup untuk menjangkau semua kebutuhan pengamanan. Hal ini disampaikan langsung oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Fregat  Iver Huitfeldt
Fregat Iver Huitfeldt

Meskipun, Indonesia juga mampu untuk memperkuat pertahanan lautnya dengan produksi membuat kapal selam, yakni KRI 405 Alugoro buatan PT PAL Indonesia (Persero).

Kapal selam ini sebenarnya tidak dibuat sendiri, melainkan kerja sama PT PAL dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co., Ltd (DSME) Korea Selatan. Ada 206 teknisi atau engineer dari Indonesia yang dilibatkan dalam pembuatan kapal ini.

“Pembangunan section di Korea Selatan melibatkan orang PT PAL, itu lebih dari 100 (orang). Banyak engineer dan teknisi kami yang dikirim kesana (Korsel) untuk program ini. Untuk membuat (kapal selam),” sebut Plt. Kadep Humas PT PAL Indonesia (Persero) Utario Esna Putra kepada CNBC Indonesia Selasa, (21/1/2020).

Uji Coba

Kapal selam buatan PT PAL Indonesia (Persero) KRI 405 Alugoro sedang melakukan uji Sea Acceptance Test (SAT) sejak pertengahan Januari 2020 di Banyuwangi, Jawa Timur. Kapal selam ini berhasil diproduksi di Indonesia dengan menggandeng Korea Selatan (Korsel).

“Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu mengembangkan dan membangun teknologi kapal selam,’” jelas PT PAL dalam situs resminya, dikutip Selasa (21/1/2020)

Kapal Selam yang dibuat PT PAL ini selesai diproduksi 11 April 2019 di galangan kapal milik PT PAL, Surabaya, Jawa Timur. Proses produksinya memakan waktu sampai 4 tahun. Pada 6 April 2015, dimulai groundbreaking pembangunan infrastruktur kapal selam di PT PAL Indonesia (Persero).




Demikian Informasi terbaru Kemenhan Impor Kapal Panjang Ocean Going , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Sang Pembaharu Agung dari Damaskus – Suara Muhammadiyah – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terbaru, Sang Pembaharu Agung dari Damaskus – Suara Muhammadiyah

Terlahir dengan nama lengkap Abu al-Abbas Taqiyyuddin Ahmad bin Abd as-Salam bin Abdillah bin Taimiyah al-Harrani pada 22 Januari 1263 M yang bertepatan dengan 10 Rabiul Awwal 661 H Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah adalah pembaru agung dari Damaskus. Ia adalah orang yang keras pendiriannya, teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya.

Dikutip dari Ensiklopedia Peradaban Islam karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, pada satu kesempatan ia pernah berkata, “Jika aku sedang memikirkan suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang musykil bagiku, maka aku akan beristighfar sekitar seribu kali sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan dimanapun, baik di pasar, masjid, maupun madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Di Damaskus ia menimba ilmu hingga kemudian menjadi ulama besar yang sangat dikagumi karena ketinggian ilmu dan istiqamahnya dalam memperjuangkan aqidah Islam. Sejak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Menghafalkan al-Qur’an dan menimba berbagai cabang ilmu dari para ulama terus ia lakukan. Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu usuluddin, seperti tafsir, hadits, dan bahasa arab. Ia pun telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, al-Mu’jam al-Kabir karya at-Tabrani dan al-Kutub as-Sittah.

Suatu waktu saat ia masih kanak-kanak, ada seorang ulama besar dari Aleppo sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah  yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan pertanyaan dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, ia pun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya sehingga ulama tersebut berkata, “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar. Sebab, belum pernah ada seorang bocah sepertinya.”

Sejak kecil ia hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan menggali ilmu, terutama yang terkait dengan al-Qur’an dan sunnah. Lalu lantas bagaimana dengan kita, masihkah kita masih ingin bermalas-malasan membaca dan belajar? (Diko)



Demikian Informasi terbaru Sang Pembaharu Agung dari Damaskus – Suara Muhammadiyah , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber