Puncak Spiritualitas Tertinggi Warga Muhammadiyah – Berita – NewsMuh



news.tarjih.id menyuguhkan info kekinian, Puncak Spiritualitas Tertinggi Warga Muhammadiyah – Berita


MUHAMMADIYAH.ID, MEDAN — Kita masih beruntung, karena masyarakat di Negara kita masih percaya dengan agama. Sehingga tugas Muhammadiyah tidak terlalu berat, bayangkan jika organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah hidup di Barat. Karena di sana kepercayaan yang mendasar terkait nilai keagamaan dan keTuhanan saja sudah banyak tergerus.


 


Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Majelis Tarjid dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syamsul Anwar ketika memaparkan materi Spektrum dan Akar Masalah Kemanusiaan: Perspektif Agama, di acara Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah tahun 2020 di Kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sabtu (22/2).


 


“Ada fenomena di masyarakat Barat yang harus kita waspadai supaya tidak terjadi pada masyarakat kita. Yang disebabkan tidak percaya agama dan menyebabkan kehilangan makna hidup,” ucap Syamsul.


 


Di Barat, hal ini kemudian melahirkan paham baru yang berlandaskan pada etika individualistic dan paham filsafat sosial yang menyebutkan bahwa paham sosial ini tidak boleh bergantung kepada orang lain. Dan memunculkan konsep unproductifberden (keadaan tidak produktif), yakni keadaan dimana manusia sudah tidak produktif lagi dan harus disingkirkan keberadaannya dari struktur atau tatanan masyarakat.


 


Konsep tersebut dilekatkan kepada orang yang sudah lanjut usia (lansia). Kemudian kelompok lansia diminta untuk mengucapkan komitmen bahwa, mereka akan meningalkan dunia yang saat ini dijalaninya. Cara mereka meningalkan dunia bisa melalui beberapa cara, diantaranya adalah dengan cara Euthanasia, atau kematian melalui jalur medis, yang dalam pandangan masyarakat Barat jalur kematian ini dianggap sebagai ‘mati yang terhormat’.


 


“Di sini mungkin masih dianggap asing, tapi ini adalah realitas dan bisa jadi hal ini nanti berlaku juga di negeri kita. Dari itu Muhammadiyah mengusahakan untuk adanya rumah-rumah rawat bagi warga senior. Karena ada diantara mereka ini yang kehilangan makna hidup, karena dia hidup di tengah-tengah keluarga yang sibuk dan seperti dilupakan keberadaannya,” urainya.


 


Fenomena ini menjadi tantangan Muhammadiyah kedepan, sehingga diperlukan pengkayaan pengetahuan agama untuk meninjau dan menjawab, serta mengelola persoalan kemanusiaan. Dengan demikian Muhammadiyah harus mengembangkan spiritualitas baru disamping yang saat ini telah ada, yakni berbasis etika asih. 


 


Basis etika tersebut adalah etika keterlibatan, maka bagi warga Muhammadiyah puncak spiritualitas tertinggi adalah dengan berlaku dan terlibat kedalam urusan persoalan kemanusiaan yang diwujudkan menjadi amal usaha.


 


“Bukan etika intensi, yang mementingkan kesucian batin dan hidup secara mengasing, dan memandang dunia sebagai suatau yang jahat dan buruk. Sehingga spiritualitasnya terbebas dari dunia ini. Ini berbeda dengan etika yang dipahami oleh Muhammadiyah, sehingga Muhammadiyah hidup semakin panjang dan gerakkannya bukan semakin menyempit, namun semakin melebar,” tuturnya.


 


Menyambung yang disampaikan Syamsul, Fifi Theresia Mahaputri, Direktur Pelayanan Medis RSIJ Sukapura Jakarta Utara mengulas data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 bahwa, 8,9% dari jumlah penduduk Indonesia terdiri dari 47,48% lansia laki-laki dan 52,52% adalah lansia perempuan, yang tersebar sebanyak 49,64% di kota dan 50,36% hidup di desa. Maka Muhammadiyah sebagai gerakkan layanan sosial, dalam melihat data ini tidak boleh diam.


 


Sehingga Muhammadiyah mencoba melakukan ikhitar untuk mengurangi problematika sosial lansia melalui pendekatan pelayanan di luar panti yang dikemas dengan istilah Muhammadiyah Senior Care. Pendekatan ini bertujuan untuk peningkatan kualitas kesehatan lansia, peningkatan pengetahuan dan keterampilan kepada keluarga dan lingkungan, dan diharapkan terbentuknya keluarga ramah lansia. (a’n)



Demikian info kekinian Puncak Spiritualitas Tertinggi Warga Muhammadiyah – Berita , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Goodwill Zubir: Seluruh Aset Muhammadiyah Wajib Disertifikatkan – NewsMuh



news.tarjih.id menyuguhkan kabar kekinian, Goodwill Zubir: Seluruh Aset Muhammadiyah Wajib Disertifikatkan

Ketua PP Muhammadiyah, Goodwill Zubir pada rakor majelis wakaf pwm sulsel

KHITTAH.CO, MAKASSAR– Muhammadiyah sangat populer baik  dalam negeri maupun luar negeri. Itu karena organisasi Muhammadiyah memiliki amal usaha yang cukup besar. Di Indonesia dan bahkan di dunia ini tidak ada satu  organisasi masyarakat yang memiliki amal usaha atau asset sebesar yang dimiliki Muhammadiyah.

Hal ini disampaikan Ketua Majelis Wakaf dan Kehartabendaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Drs Goodwill Zubir, saat membuka Rapat  Koordinasi Majelis Wakaf dan Kehartabendaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, di Aula Pusdiklat Unismuh Makassar di Bollangi, Gowa, Sabtu 22 Februari 2020.

Lebih lanjut Goodwil Zubir,  mengatakan,  setelah  Muktamar  nanti, ada Muswil, Musda dan Muscab. Dan kalau sudah terbentuk pengurusnya maka  sebaiknya dilakukan  serahterima asset kepada yang terpilih.

Mengapa hal ini harus dilakukan, kata Goodwill Zubir, agar kita tahu asset Yang dimiliki, harus jelas dimana asetnya, dan apakah memiliki surat (sertifikat) atau tidak, dan siapapun yang terpilih  baik ditingkat PWM maupun tingkat PDM hingga cabang harus ada serahterima asset.

Oleh karena itu Ketua Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PP Muhammadiyah, Goodwill Zubir,  dalam  Rapat Koordinasi Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PWM Sulsel dengan tegas mengatakan, seluruh asset Muhammadiyah wajib disertifikatkan.

Dan sertifikat itu atas nama Persyarikatan Muhammadiyah yang berkantor  pusat di Yogyakarta dan Jakarta. “Tidak ada lagi asset Muhammadiyah atas nama pribadi,”kunci Goodwill Zubir.

Rapat koordinasi ini mengambil tema selamatkan asset persyarikatan. Hadir Rektor Unismuh Makassar, Prof Dr H Abdul Rahman Rahim, Ketua PWM Sulse, Prof Dr H Ambo Asse, Ketua PW Aisyiyah Sulsel, Dr Nurhayati Azis, Ketua BPH Unismuh, Dr Ir HM Syaiful Saleh, Wakil Rektor IV, H Saleh Molla, Koordinator Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PM Sulsel, KH Alwi Uddin, dan perwakilan majelis wakaf dan kehartabenadaan PDM se Sulsel.-nasrullah-



Demikian kabar kekinian Goodwill Zubir: Seluruh Aset Muhammadiyah Wajib Disertifikatkan , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Gerebek Kampus Universitas Muhammadiyah Bulukumba, ada apa ? – News.Tarjih.ID





Universitas Muhammadiyah Bulukumba, terletak di Kecamatan Mariorennu, Kec. Gantarang telah menjadi tempat seleksi tes CPNS 2020 dengan 9.428 orang di mana terdapat 243 formasi yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba yang terdiri dari pendidik, pekerja kesehatan, dan staf teknis. Proses tes CPNS berlangsung selama empat hari (17 Februari 2020 hingga 20 Februari 2020).

Video ini dibuat sebagai bukti dokumentasi kegiatan di kampus Universitas Muhammadiyah Bulukumba. Selain itu kantin tersedia di kampus UMB. Dosen, mahasiswa, pemuda Muhammadiyah, dan Naisyiyatul Aysyiah berpartisipasi dalam penjualan berbagai makanan dan minuman serta pedagang dari luar juga berdagang di ruang lingkup kampus.

Dokumentasi video ini hanya di luar lokasi area pengambil tes CPNS

Sumber informasi TribunBulukumba.com
Suara: Tautan semuanya

Jangan lupa untuk berlangganan, suka, komentar & bagikan!



sumber: https://www.youtube.com/watch?v=6U_cQhLMSRE

Dunia Ekstrem Indonesia – Berita – NewsMuh



news.tarjih.id menyuguhkan berita kekinian, Dunia Ekstrem Indonesia – Berita


Oleh: Haedaar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)


 


Musuh terbesar Pancasila ialah agama! Indonesia pun menjadi gaduh. Jika pernyataan kontroversial itu lahir dari fakta kelompok kecil umat yang memandang Pancasila thaghut. Kesimpulan tersebut jelas salah secara logika maupun substansi.


 


Jika anda melihat kucing hitam hatta jumlahnya banyak maka jangan simpulkan semua kucing berbulu hitam. Ini pelajaran mantiq paling elementer. Ketika kesalahan logika dasar itu dibenarkan dan diulangi, boleh jadi ada masalah lain yang lebih problematik di ranah personal dan institusional.


 


Kesalahan subtansi menjadi lebih parah. Agama manapun tidak bertentangan dan memusuhi Pancasila. Para pendiri bangsa dari semua golongan telah bersepakat menjadikan Pancasila ideologi negara. Di dalam Pancasila terkandung jiwa dan nilai ajaran agama yang luhur. Bung Karno bahkan berkata, dengan sila Ketuhanan maka bukan hanya manusianya, tetapi Negara Indonesia itu bertuhan.


 


Indonesia sebenarnya tak perlu gaduh, jika siapapun yang salah berjiwa kesatria. Bila kearifan itu lahir tanpa kepongahan, reaksi publik tentu positif. Klarifikasi pun tidak diperlukan jika sekadar apologia “post factum”, mencari pembenaran di kemudian hari dengan merakit argumen baru yang esensinya bermasalah. Apalagi setelah ini meluncur pernyataan serupa yang kian riuh!


 


Paradigma Ekstrem


 


Menyatakan agama musuh terbesar Pancasila sama bermasalah dengan memandang Pancasila thaghut modern. Setali mata uang dengan pemikiran jika Indonesia ingin maju tirulah Singapura yang menjauhkan agama dari negara. Berbanding lurus dengan pandangan bila negeri ini ingin keluar dari masalah harus menjadi negara khilafah.


 


Sejumlah kegaduhan di negeri ini terjadi tidak secara kebetulan. Di ibalik kontroversi soal agama versus Pancasila serta pandangan sejenis lainnya terdapat gunung es kesalahan paradigma dalam memposisikan agama dan kebangsaan. Di dalamnya bersemi paradigma ekstrem (ghuluw, taṭarruf) dalam memandang agama, Pancasila, keindonesiaan, dan dimensi kehidupan lainnya. 


 


Pikiran ekstrem dalam hal apapun akan melahirkan pandangan dan tindakan yang berlebihan. Karena sudah lama dicekoki oleh pemikiran bahwa sumber radikalisme-esktremisme dalam kehidupan berbangsa ialah agama dan umat beragama, maka lahirlah pandangan dan orientasi yang serba ekstrem tentang agama dan kebangsaan. Agama seolah racun negara dan Pancasila.


 


Apalagi ada realitas induksi ketika sebagian kecil umat beragama mengembangkan paham ekstrem dalam menyikapi dunia dan negara. Kelompok ini dikenal  beraliran takfiri dengan memandang pihak lain salah, sesat, dan kafir. Negara-bangsa atau bentuk negara lainnya dipandang sebagai thaghut. Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia produk dari sistem thaghut itu yang harus dilawan.


 


Pola pandang ekstrem beragama ala takfiri ini melahirkan pengikut (follower) fanatik buta. Sebaliknya melahirkan reaksi balik yang sama ekstrem. Tumbuh pula kelompok ekstrem liberal-sekular, yang tampil dalam kekenesan baru. Dalam situasi paradoks ini negara seolah ikut andil dalam memproduksi ekstremitas melalui program deradikalisme, sehingga kian menambah rumit persilangan dunia ekstrem di Republik ini. Plus berbagai persoalan bangsa yang dibiarkan akut dan menjengkelkan.


 


Dunia serbaekstrem inilah yang melahirkan konflik antar pemikiran yang sama-sama keras. Agama versus Pancasila. NKRI versus Khilafah. Ekstrem kanan lawan ekstrem kiri. Radikal dilawan radikal, melahirkan radikal-ekstrem baru. Tariq Ali menyebutnya sebagai The Clash of Fundamentalism, sementaraMichael Adas mencandranya sebagai fenomena sosiologis “the sectarian respons”. Konflik  kebangsaan ini akan terus berlangsung jika tidak ada peninjauan ulang terhadap paradigma keindonesiaan yang ekstrem dalam hegemoni nalar positivistik, kuasa monolitik, dan mono-perspektif di Republik ini.


 


Jalan Terjal Moderasi


 


Indonesia menghadapi jalan terjal dunia ekstrem. Dua kecenderungan antagonistik dalam relasi agama dan negara mengemuka di negeri ini. Pertama, ekstremitas atau kesekstreman dalam memandang radikalisme hanya tertuju pada radikalisme agama khususnya Islam. Akibatnya, negara dan kalangan tertentu terjebak pada kesalahan pandangan dalam menentukan posisi agama dan negara. Pancasila dan Indonesia pun dikonstruksi  dengan paradigma liberal-sekular.


 


Kedua, pola pikir keagamaan yang ekstrem, yang memandang kehidupan bernegara serbasalah, thaghut, dan sesat. Pandangan ini beriringan dengan kebangkitan agama era abad tengah yang teosentrisme, millenari, dan hitam-putih. Paham ekstrem keagaamaan ini sering didukung diam-diam oleh mereka yang kecewa terhadap keadaan —dalam istilah Taspinar ekstrem karena deprivasi relatif— sehingga lahir revitalisasi paham ekstrem keagamaan.


 


Bagaimana solusinya? Kembangkan moderasi atau wasathiyyah, baik dalam kehidupan keagamaan maupun kebangsaan. Masalah moderasi telah dipilih banyak pihak untuk melawan masalah mendesak saat ini, yaitu ekstremisme (Haslina, 2018). Jika ingin terbangun kehidupan beragama, berbangsa, dan bersemesta yang moderat maka jalan utamanya niscaya moderasi, bukan deradikalisasi.


 


Paradigma deradikalisme menimbulkan benturan karena ekstrem dilawan ekstrem dalam oposisi biner yang sama-sama monolitik. Membenturkan agama versus Pancasila maupun ide mengganti salam agama dengan salam Pancasila secara sadar atau tidak merupakan buah dari alam pikiran deradikalisme yang esktrem. Jika paradigma ini terus dipertahankan maka akan muncul lagi kontroversi serupa yang menghadap-hadapkan secara diametral agama dan kebangsaan, yang sejatinya terintegrasi.


 


Mayoritas umat beragama di negeri ini sejatinya moderat, termasuk umat Islam sebagai mayoritas. Masyarakat Indonesia pun dalam keragaman suku, keturunan,  dan kedaerahan sama moderat. Hidup di negeri kepulauan dengan angin tropis dan keindahan alamnya membuat masyarakat Indonesia berkepribadian ramah, lembut, toleran, dan saling berinteraksi dengan cair sehingga lahir bhineka tunggal ika. Pancasila dan negara-bangsa telah diterima sebagai kesepakatan nasional yang dalam paradigma Muhammdiyah disebut Darul Ahdi Wasyahadah.


 


Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai dasar dan ideologi moderat. Sekali Pancasila dan Indonesia dibawa ke paradigma ekstrem, maka berlawanan dengan hakikat Pancasila dan Keindonesiaan yang diletakkan oleh para pendiri negara. Siapapun yang membenturkan Pancasila dengan agama dan elemen penting keindonesiaan lainnya pasti ahistoris dan melawan ideologi dasar dan nilai fundamental yang hidup di bumi Indonesia. Jika ingin Indonesia moderat maka jangan biarkan kehidupan keagamaan dan kebangsaan disandera oleh sangkar-besi paradigma dunia ekstrem!


 


Tulisan ini telah dimuat di halaman Republika pada Sabtu (22/2)



Demikian berita kekinian Dunia Ekstrem Indonesia – Berita , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Government Gathering Sebagai Wadah Kerjasama UMY Dengan Pemerintah – NewsMuh



news.tarjih.id menyuguhkan info kekinian, Government Gathering Sebagai Wadah Kerjasama UMY Dengan Pemerintah

BANTUL — Dewasa ini banyak sekali muncul isu yang
menjadi sorotan terkait dengan persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang
terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan, saat ini persoalan yang muncul dan menjadi
perhatian publik tidak hanya terkait dengan pengelolaan pemerintahan, melainkan
juga isu lingkungan yang memberikan dampak terhadap kebijakan pemerintah. 

“Isu tersebut menjadi problem mendesak untuk segera
diselesaikan melalui kontribusi pemerintah yang berorientasi kepada kelestarian
lingkungan untuk mencapai keberlangsungan hidup masyarakat yang ideal. Oleh
karena itulah, kami kembali mengadakan acara Government Gathering ini, yang
merupakan kesempatan bagi civitas akademika UMY dan Pemerintah Daerah untuk
dapat saling bertukar pengalaman, diskusi, dan berkolaborasi tentang Good and
Green Governance. Untuk mengembangkan kerjasama serta memberikan terobosan bagi
masyarakat daerah dalam menyelesaikan berbagai problem
tersebut,” ungkap Kepala Lembaga Kerjasama dan Urusan International
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LKS UMY) Eko Priyono Purnomo, M.Res.,
Ph.D dalam Government Gathering pada selasa  (18/02) di Sportorium Kampus
Muda Mendunia UMY.

Government Gathering yang ke-2 ini mengangkat tema G5
(Government Gathering on Good and Green Governance) dengan Tagline “Better
Government for Better Environment”.

Ada tiga sesi dalam acara ini yaitu sesi pertama yang
diawali dengan pembukaan, sambutan, dan penandatanganan MoU, sesi kedua yaitu
diskusi tentang Good Governance bersama Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo,
S.H., M.IP lalu dilanjutkan sesi ketiga yaitu diskusi  tentang Green
Governance bersama Gubernur DKI Jakarta H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P.,
Ph.D melalui teleconference.

Selain itu juga turut hadir Kepala Daerah dari berbagai
kota di Indonesia, seluruh rektor universitas di Yogyakarta, dan Kepala Sekolah
SMA Muhammadiyah di Yogyakarta.



Demikian info kekinian Government Gathering Sebagai Wadah Kerjasama UMY Dengan Pemerintah , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Orang Beriman Pasti Akan Dimenangkan Allah SWT (Tafsir QS Yunus 98 – 103) – Ust. Yunahar Ilyas (1) – News.Tarjih.ID




Kajian Tafsir Kamis Pagi PP Muhammadiyah

Tafsir QS Yunus 98 – 103
Pemateri : Prof.Dr.H. Yunahar Ilyas,Lc.,M.Ag.
Gedung PP Muhammadiyah
Jl. Cik Di Tiro Yogyakarta


Source by KAJIANMU

Drum Corp Pelopor Cendrawasih Akademi Kepolisian Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta – News.Tarjih.ID





Drum Corp Perintis Cendrawasih Akpol dimainkan oleh 307 Taruna / Taruni tingkat III batch 50 Batalyon Wicaksana Adhimanggala di bawah kepemimpinan Cendrawasih Master Brigadir One Taruna Made Sadika Pusdiana memeriahkan "Dialog Nasional ke-8" Batalyon Indonesia kelas 50 dari Batalyon Wicaksana Adhimanggala di bawah kepemimpinan Cendrawasih Master Brigadir Satu Taruna Made Sadika Pusdiana ikut memeriahkan acara "Dialog Nasional 8 Indonesia Maju 50 Batalyon Wicaksana Adhimanggala di bawah kepemimpinan Cendrawasih Master Brigadir Satu Taruna Made Sadika Pusdiana ikut memeriahkan acara" Dialog 8 Indonesia Forward 50 "bersama dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Bpk. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Minggu pagi (11/3/2018).

Album Foto.
11.1-3-2018 Drum Corp Perintis Akademi Cendrawasih Kepolisian di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta



sumber: https://www.youtube.com/watch?v=eVymz5KOjBw

Muhammadiyah Tidak Memandang Seni dengan Kacamata Curiga – Berita – NewsMuh



news.tarjih.id menayangkan informasi terbaru, Muhammadiyah Tidak Memandang Seni dengan Kacamata Curiga – Berita


MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL – Muhammadiyah tidak memandang seni dengan kacamata curiga. Kehadiran Lembaga Seni dan Olahraga (LSBO) merupakan penanda bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tidak membuat agama menjadi koridor-koridor normatif yang serba membatasi, melainkan menjadi sumber motivasi melahirkan karya seni.


Dalam menindaklanjuti kepedulian Muhammadiyah terhadap seni budaya, LSBO Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (21/2). Rakornas tersebut rencananya akan berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 21 hingga 22 Februari 2020 yang dihadiri oleh berbagai LSBO tingkat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dari Aceh hingga Papua.


Ketua LSBO Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syukriyanto ARmenjelaskan bahwa Rakornas LSBO ini merupakan evaluasi program yang telah berjalan.


“Apa yang kurang kita perbaiki, yang telah berjalan dengan baik kita pertahankan untuk lebih baik lagi. Yang penting kita berusaha sebaik mungkin, ada pun hasilnya kita serahkan pada Allah,” ujar Syukriyanto saat ditemui di sela-sela Rakornas.


Selain membahas tentang apa yang telah dijalankan, Syukriyanto juga menjelaskan bahwa LSBO akan menyiapkan berbagai program baru guna merumuskan kembali strategi dakwah Islam melalui seni budaya dan olah raga. Hal ini penting dilakukan sebagai upaya agar segenap insan tidak lepas dari sifat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan berakhlak mulia.


“LSBO itu kan tugasnya melaksanakan strategi dakwah Islam lewat budaya, dalam artian, menyusun dan merumuskannya bisa lewat sastra, tapak suci, lagu, dan lain sebagainya. Insya Allah ke depan akan ada program dipertahankan dengan beberapa perubahan dan tidak sedikit juga program-program yang baru akan dijalankan,” tuturnya.


Syukriyanto juga menambahkan keinginannya agar LSBO ini menjadi sebuah majelis.


“Kalau LSBO berubah menjadi majelis, itu akan semakin memudahkan kita berdakwah Islam melalui budaya. Semoga saja ke depan hal ini dapat terwujud,” pungkasnya. (ilham)



Demikian informasi terbaru Muhammadiyah Tidak Memandang Seni dengan Kacamata Curiga – Berita , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber