Kajian Online Ramadhan 1441 H Universitas Muhammadiyah Malang – Edisi 20 Mei 2020 #1 – News.Tarjih.ID





Studi Online Ramadhan 1441 H Universitas Muhammadiyah Malang, dengan tema: Muhammadiyah dan Pembangunan Ekonomi Umat

Pembicara:
– Dr. Arif Budimanta (Staf Khusus Presiden)
– Dr. Nazaruddin Malik, M.Sc (Wakil Rektor II UMM)
– Dr. Mukhaer Pakkanna (Rektor ITB-AD)

Siaran Langsung dari Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM (UMM Dome Gate B), Rabu, 20 Mei 2020.



sumber: https://www.youtube.com/watch?v=gAA6mn9IwYA

Makna Nazhar dan Relasinya Dengan Akal (Bagian XX) – NewsMuh



news.tarjih.id menayangkan kabar terkini, Makna Nazhar dan Relasinya Dengan Akal (Bagian XX)

Matan HPT:
اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ كلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Syarah:
Kata Kunci: وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (Mereka berpendapat bahwa nashar (memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah), adalah wajib menurut ajaran Agama).
Secara bahasa, nazar bisa diartikan melihat, menunggu, bertemu, berfikir dan merenung.
Dalam ilmu kalam, nazar lebih identik dengan makna berfikir atau merenung atas sesuatu. Jika seseorang melihat benda, lalu bentuk benda muncul dalam gambaran otaknya, lalu mulai ada reaksi terhadap benda tersebut, bearti ia sudah mulai proses nazhar. Ia mulai berfikir dan membayangkan terhdap benda yang ada di hadapannya. Proses berfikir tadi, guna memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Oleh karena itu, Qadhi Abu Bakar menyatakan bahwa nazar merupakan proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan atau mendapatkan prasangka yang dekat dengan pengetahuan ilmu.
Nazhar bisa terkait dengan persoalan yang lebih luas. misalnya untuk memecahkan persoalan matematis, melihat gejala sosial untuk dianalisa, mengamati kejadian alam semesta, dan lain sebagainya. Karena nazhar sangat luas, maka proses nazhar juga luas. Nazhar umumnya melihat sesuatu secara spesifik sehingga lebih fokus. Dengan demikian, apa yang dihasilkan juga lebih sesuai dengan harapan. Karena nazhar cakupannya sangat luas, maka nazhar membutuhkan sarana yang benar. Sarana nazhar tadi, umum disebut dengan metodologi berfikir.
Para ulama kalam membagi nazhar menjadi dua, yaitu:

  1. Nazar terhadap sesuatu obyek dan permasalahan dengan cara pandang yang benar. Jika ini dilakukan, maka nilai yang dihasilkan akan benar. Contoh ketika ia memecahkan persoalan matematis dengan rumus-rumus yang sesuai. Hasilnya pun benar dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ketika ia meneliti tema lain, maka ia akan menggunakan metodologi lain yang sesuai dengan fokus bahasan.
  2. Nazar terhadap obyek persoalan, namun dengan sarana yang salah. Nilai yang dihasilkan, tentu akan salah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
    Syarat utama agar seseorang dapat melakukan nazar adalah akal. Tanpa adanya akal, seseorang tidak akan dapat melakukan proses berfikir. Oleh karena itu, nazhar hanya dapat dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia yang dapat berfikir dan membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang layak dan tidak. Dalam al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang memerintahkan kita untuk melakukan nazhar dengan melihat alam raya sehingga ada proses berfikir dalam otak manusia. Proses berfikir tadi, bertujuan untuk mengantarkan manusia kepada pengakuan adanya Sang Pencipta seperti firman Allah berikut ini:
    الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
    Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS:Ali Imran: 191)
    سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
    Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS:Fushshilat: 53).
    اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
    Artinya: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.” (QS:Ar-Ra’d: 2).
    خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
    Artinya: Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS. Luqman: 10).
    Dikatakan di atas bahwa syarat untuk proses berfikir (nazhar) adalah dengan akal pikiran. pertanyaannya, apakah akal itu? Menurut para filsuf, akal adalah esensi independen inmateri. ia wujud namun tidak berbentuk. Ia sebagai sarana ilmu pengetahuan. Para filsuf kadang melihat bahwa wujud yang lepas dari dunia materi, disebut dengan akal. Bahkan akal dianggap sebagai sumber atas sesuatu. Tuhan sendiri, mereka namakan sebagai akal pertama. wujud lain yang muncul, dianggap sebagai pancara atau bersumber dari akal pertama tadi.
    Menurut para filsuf, akal kadang diartikan sebagai potensi (quwah) yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan tertentu. Mereka menyebutnya dengan akal nazari (akal sebagai proses berfikir). Kadang diartikan sebagai potensi seseorang untuk dapat mengerjakan perbuatan yang bersifat partikular (juz’iy).
    Kalau akal dianggap sebagai potensi (bil quwah), apa bedanya dengan ruh? Akal (bil quwah) sepadan dengan potensi, sementara ruh adalah spirit atas sesuatu. Akal sebagai proses berfikir, dan ruh yang memberikan dorongan untuk melakukan proses pemikiran itu.
    Potensi (bil quwwah) sesungguhnya adalah istilah yang umum digunakan oleh para pakar mantik dan filsuf. Untuk mengidentifikasi sesuatu, kadang mereka menggunakan istilah bil quwwah dan bil fi’li. Bil quwwah adalah potensi yang ada pada diri seseorang. Bil fi’li adalah realita atau fakta yang terjadi di lapangan untuk mewujudkan potensi. Misal, manusia punya potensi (bil quwwah) untuk menjadi orang salih. Namun secara fakta (bil fi’li), tidak semua manusia menjadi orang shalih. Semua manusia mempunyai potensi untuk menjadi insinyur. Di alam nyata, banyak yang menjadi insunyur, namun tidak sedikit yang tidak bisa. Potensi seseorang untuk dapat melakukan perbuatan tertentu, oleh para filsuf disebut dengan istilah akal praktis (al-aqlu al-amaliy).
    Kadang manusia mempunyai potensi terpendam. Potensi itu akan muncul manakala diasah dan dilatih. Dengan kebiasaan tersebut, seseorang bias menjadi professional di bidangnya. seseorang yang punya potensi untuk menjadi penulis, lalu ia belajar dan berlatih menulis, dengan potensi dan latihan tersebut, ia bisa menjadi penulis professional. Potensi terpendam tersebut, oleh para filsuf dinamakan dengan al-aqlu alheoulany. Jika sudah dapat menulis namun belum dapat menyusun struktur kalimat secara benar, sehingga belum dapat mengungkapkan apa yang ada dalam otak dia, maka disebut aqlun bilmilkah. Jika sudah bisa, disebut aqlun bil fi’li. Akal kadang diartikan sebagai potensi mendapatkan ilmu tanpa proses belajar. Ini disebut sebagai akal suci. Tradisi Masyarakat secara umum menggunakan istilah akal bagi mereka yang sehat secara rahani. Akal juga dianggap sebagai tempat manusia menerima beban syariah.
    Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama kalam tentang arti akal. Perbendaan pendapat ini nantinya berimplikasi atas pertanyaan apakah baik dan buruk dapat diketahui melalui akal. Muktazilah menganggap bahwa akal adalah tempat di mana manusia dapat mengetahui dan membedakan antara perbuatan baik dan buruk secara independen. Dengan akal, sesuatu yang baik akan dikatakan baik, dan sesuatu yang buruk akan dikatakan buruk. Sebagian kalangan muktazilah mendefinisikan akal sebagai sesuatu yang dapat membedakan terbaik dari dua kebaikan dan terburuk dari dua keburukan. Pendapat ini berdasarkan kepada sikap dan prinsip mereka yang menyatakan bahwa baik buruk manusia dapat diketahui dengan akal.
    Menurut kalangan khawarij, akal adalah sesuatu yang dapat memikirkan perintah Allah dan larangannya. Pendapat ini lemah, karena mendefinisikan akal dengan kata-kata akal (memikirkan). Pendapat ini juga dianggap menafikan akal bagi orang yang belum menerima dakwah Islam, atau anak kecil yang belum baligh sehingga belum menerima beban taklif.
    Menurut Abu Ishaq yang bermazhab Asyariy, akal adalah ilmu. Hanya pendapat ini banyak mendapatkan kritikan, di antaranya adalah bahwa mendefinisikan akal dengan ilmu, dianggap tidak membedakan antara orang yang telah memperoleh banyak ilmu, dengan orang yang baru mendapatkan sedikit ilmu. Keduanya sama-sama disebut sebagai orang yang berilmu. Padahal di masyarakat, konotasi orang yang berilmu adalah mereka yang berpengetahuan luas.
    Imam Haramain, salah seorang ulama dari madzhab Asyari menyatakan bahwa akal adalah insting untuk dapat mencapai pada pengetahuan tertentu. Lalu beliau membagi ilmu menjadi dua yaitu ilmu qadim atau ilmu baharu (hadis). Hanya pendapat ini juga banyak mendapatkan kritikan. Jika ilmu harus dari akal, kemudian membagi ilmu menjadi qadim dan baharu (hadis), Imam Haramain sama saja dengan membagi akal menjadi qadim dan baharu (hadis). Sementara akal, semuanya baharu (hadis). Kecuali pendapat para filsuf yang menyatakan bahwa Tuhan adalah akal pertama dan sifatnya qadim.
    Sebagian ulama Asyari menyatakan bahwa akal adalah sebagian dari ilmu daruri. Yang dimaksudkan dengan ilmu dharuri adalah ilmu yang dimiliki manusia tanpa proses berfikir. hal itu, karena sesuatu yang ada tersebut sudah jelas dan sifatnya aksiomatis seperti pengetahuan manusia bahwa api itu panas, langit di atas, dan bumi di bawah.
    Imam Amidi dalam kitab al-Ibkar fi Ushuliddin menanggapi pendapat yang menyatakan akal merupakan bagian dari a’radh. Menurut Imam al-Amidi bahwa jika akal dianggap sebagian dari a’rad, ada dua kemungkinan. Bisa jadi ia adalah ilmu atau bukan ilmu. Jika akal bukan ilmu, pendapat ini tertolak karena orang yang tidak berilmu, nantinya tetap akan disebut sebagai orang yang berakal. Jika akal maknanya seluruh ilmu pengetahuan, bearti orang yang hanya mengetahui sebagian ilmu saja tidak bisa disebut sebagai orang yang berakal.

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899



Demikian kabar terkini Makna Nazhar dan Relasinya Dengan Akal (Bagian XX) , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Idul Fitri Saat Pandemi, Menguji Ketaatan Diri – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan berita terkini, Idul Fitri Saat Pandemi, Menguji Ketaatan Diri



SURYAGEMILANGNEWS.COM, Mertoyudan – Setiap perayaan hari besar agama maka setiap manusia yang beragama dituntut untuk mampu berfikir dalam rangka menggali makna dan hikmah yang ada didalamnya. Hal tersebut menjadi penting sebagai proses muhasabah (intropeksi diri) terhadap perjalanan hidup yang telah dijalani untuk kepentingan perbaikan dimasa yang akan datang. Demikian disampaikan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Jumari pada Senin 25/05 di rumahnya Jalan Nanas IV No.59 Perumnas Kalinegoro, Mertoyudan Kabupaten Magelang.
Idul Fitri 1441 H ini sangat istimewa, ada situasi yang berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya. Penetapan status darurat yang ditetapkan pemerintah masih berlaku akibat pandemi virus Coronavirus Disease (Covid-19) yang belum mereda. Pemerintah dan juga beberapa organisasi keagamaan termasuk Muhammadiyah telah membuat himbauan berupa edaran resmi terkait protokol yang harus dipatuhi dalam aktifitas kegiatan keseharian termasuk dalam hal ini aktifitas ibadah.
Bagi yang taat pada protokol kesehatan maka sebenarnya hal ini merupakan kesempatan untuk menghayati secara mendalam ibadah ramadhan dan juga idul fitri. Ketaatan kepada protokol kesehatan merupakan perwujudan sikap rendah hati, kehidupan pribadinya akan lebih tertata dalam menghargai sesama.
Energi hidupnya lebih bermakna dan berguna, karena tidak perlu mencari cara untuk membenarkan pendapatnya masing-masing. Taat pada aturan termasuk dalam hal ini himbauan protokol kesehatan adalah perwujudan kesholehan sosial karena merupakan bentuk sikap mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tersebut menambahkan bahwa sibuk mencari pembenaran pendapat sendiri akan menghabiskan energi yang tentu akan menjadi sia-sia dan justru merugikan kepentingan umum. Lebih baik memanfaatkan kesempatan banyak di rumah bersama keluarga untuk proses muhasabah, mawas diri dan merencanakan masa depan.
“ Jadikan perayaan Idul Fitri tahun ini sebagai forum uji ketaatan diri menjadi hamba Allah dalam sunyi, tanpa ada sanjung puji dan akhirnya terbukti menjadi pribadi yang asli, selain itu Idul Fitri di tengah pandemi ini juga menjadi media pembelajaran bagi umat untuk benar- benar menjadi manusia yang tidak hanya sholeh secara pribadi akan tetapi juga sholeh secara sosial yang akhirnya akan mengantarkan menjadi hamba Allah yang sejati” katanya.



Demikian berita terkini Idul Fitri Saat Pandemi, Menguji Ketaatan Diri , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Rubah Di Balik Seragam – NewsMuh



news.tarjih.id menyuguhkan informasi kekinian, Rubah Di Balik Seragam

Hafara el Quds am sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi gelintiran bakso di gerobakku masih saja penuh. Biasanya jam segini aku sudah tinggal menghitung untung di rumah. Padahal badanku sudah lelah, rasa kantuk juga sudah mulai menyerangku. Aku teringat kata Pak Bejo, pemilik rumah yang ku kontrak, “Kalau tidak bisa melunasi kontrakan bulan kemarin sama […]

The post Rubah Di Balik Seragam appeared first on Sang Pencerah.



Demikian informasi kekinian Rubah Di Balik Seragam , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Referensi

Peran dan Tantangan Pelajar Menghadapi Wabah Covid-19 – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan info terkini, Peran dan Tantangan Pelajar Menghadapi Wabah Covid-19

COVID-19 atau yang lebih dikenal dengan virus corona sedang melanda Indonesia. coronavirus mulai terdeteksi Desember 2019. Virus yang berasal dari Wuhan, China ini mampu menembus dan memakan banyak korban di Indonesia. Jumlah korban virus korona sampai saat ini tembus 1,6 juta jiwa. Virus mematikan ini gejalanya seperti flu biasa, namun ada sesak napas diakhir pekan pertama gejala.

Dalam mengantisipasi penularannya, pemerintah mengeluarkan kebijakan, seluruh pekerjaan digiatkan dari rumah. Sebagian masyarakat tidak menghiraukan himbauan pemerintah, mereka melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, sehingga  membuat COVID-19 semakin merajalela dan terus menyebar di pelosok negeri. Pemerintahpun melakukan upaya agar masyarakat dapat melaksanakan himbauan tersebut. Selain itu, masyarakat juga diwajibkan memakai masker dan cuci tangan sebelum atau sesudah beraktivitas.

Pola hidup yang sehat sebagai upaya pencegahan COVID-19. Virus Corona masih menjadi bahaya terbesar di dunia, tetap tinggal di rumah menjadi pilihan yang lebih baik. Pentingnya tinggal di rumah saat kondisi bahaya ternyata telah diingatkan Allah SWT dalam firmanNya dalam surat An-Naml ayat 18.

 

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

 

Artinya: Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

Merujuk pada berbagai komentar, terutama di media sosial. Isu virus corona dikaitkan dengan Islam sudah berkembang terlalu jauh. Menyikapi epidemi global ini, sebagai seorang muslim hendaklah kita kembali kepada ajaran agama. Kita perlu ketahui seorang hamba akan tetap hidup bilamana memang ajalnya belum datang, bahkan bila virus corona ataupun virus lainnya yang lebih ganas daripada itu menjangkitinya, namun bila memang sudah ajalnya, jangankan virus corona atau yang lebih dari itu, bahkan digigit semut pun seseorang bisa mati jikalau memang ajalnya telah tiba.

Sejumlah pelajar menghadapi tantangan yang tak mudah dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) saat pandemi virus corona. Tantangan yang dihadapi mulai, dari komunikasi instansi terkait tidak lancar hingga kesulitan dalam pengumpulan data. Sebagian juga kesulitan melakukan uts secara online. Tantangan lain yaitu komunikasi dengan guru dilakukan via teknologi komunikasi, seperti surat elektronik dan pesan WhatsApp. Tetapi dengan adanya itu, bukan berarti pelajar harus pasrah dan tidak berperan dalam melawan Corona.

Disinilah peran pelajar sebagai kaum terpelajar dengan tidak mudah tergiring opini yang beredar di media sosial. Tidak mudah percaya pada informasi yang sedang diperbincangkan di masyarakat. Pelajar memiliki sikap kritis dalam melihat setiap persoalan yang terjadi di sekelilingnya. Tidak boleh apatis atau menerima apa adanya tanpa menganalisa, menelaah terlebih dahulu setiap berita yang dikonsumsinya. Sudah menjadi kewajiban besar pelajar dalam membawa masyarakat menuju perubahan kearah yang lebih baik.

Dalam menjaga kenyamanan masyarakat terkait maraknya hoax virus tersebut ada beberapa hal yang perlu pelajar  lakukan. Disinilah pelajar sebagai agen perubahan dan sebagai agen control sosial masyarakat dapat memberikan suasana disiplin, aman, tentram ditengah maraknya hoax corona. Demi membantu mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

 

*Catatan 

  • Penulis adalah Dita Fitria Wati, Anggota Lembaga Epic PW IPM Jateng
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis

 

Yuk Bagikan Tulisan ini !!!



Demikian info terkini Peran dan Tantangan Pelajar Menghadapi Wabah Covid-19 , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber

Adab Tilawah Al Quran | Ust. Royan Utsani (1) – News.Tarjih.ID




Kajian Madrasah Ngaji Kitab AMM DIY

Pembahasan Kitab Ihya Ulumuddin
Tema : Adab Tilawah Al Quran
Pemateri : Ust. Royan Utsani
Selasa, 20 Februari 2018/20.00
Masjid Haiban Hajid PWM DIY


Source by KAJIANMU

Lazismu Salurkan Bantuan Paket Ramadan ke Rohingya dan Gaza – Berita – NewsMuh



news.tarjih.id menampilkan info terbaru, Lazismu Salurkan Bantuan Paket Ramadan ke Rohingya dan Gaza – Berita


MUHAMMADIYAH.ID, ROHINGYA – Di tengah krisis pandemi global, Lazismu sebgai lembaga amil zakat nasional dalam program Ramadan Memberdayakan, telah menyalurkan bantuan bertajuk ketahanan pangan yang secara nasional serentak digaungkan untuk para penerima manfaat.


Sementara selain di dalam negeri, perhatian Lazismu di Ramadan juga tertuju ke Rakhine State, Myanmar, untuk menyalurkan bantuan paket ramadhan ke penerima manfaat. Nasharudin yang berada di lokasi sekaligus mewakili Lazismu mengatakan, dalam penyaluran bantuan ini, Lazismu berkolaborasi dengan Community Initiative Development (CID).


Nashar mengungkapkan secara manajemen kolaborasi Lazismu dan mitra lokal di Myanmar di bawah arahan Padi Global Asia (PGA) dan secara legalitas lapangan di bawah CID.


“Alhamdulillah dengan sinergi ini banyak mendapatkan kemudahan akses dan penerimaan pemerintah dan masyarakat di lapangan serta komunitas lainnya,” terangnya.


Lebih lanjut Nashar menjelaskan, dalam penyaluran bantuan itu penerima manfaatnya semua adalah Rohingya. Ada 4 titik yang menjadi target penyaluran bantuan paket ramadhan, pertama dua masjid di Dar Paing Camp yakni masjid in Makee Myaing village dan masjid in Nga Pwint Gyi village pada Sabtu, 23 Mei 2020.


Total penerima penerima manfaatnya sekitar 800 dalam bentuk menu buka puasa (iftar) dan 200 di antaranya anak-anak yang membawa pulang untuk makan di rumah. Diperkirakan ada 1000 penerima manfaat iftar. Sedangkan paket ramadan dibagikan untuk 100 kepala keluarga.


 “Jika 1 KK terdiri dari 6 anggota keluarga, maka bisa dikatakan 600 orang memperoleh manfaat bantuan paket Ramadan ini,” terangnya mengabarkan dari lapangan yang di Indonesia menunjukkan waktu pukul 01.05 WIB, tanggal 24 Mei 2020. Secara keseluruhan menurutnya, ada 1600 penerima manfaat, sambung Nashar yang juga penanggung jawab CID.


Tepi Barat, Gaza


Sebelumnya Lazismu melalui Muhammadiyah Aid, juga telah menyalurkan paket bantuan Raamdhan untuk warga yang berada di Tepi Barat, Gaza, Palestina. Penanggung Jawab Muhammadiyah Aid, Wachid Rdwan mengatakan, bantuan ke Tepi Barat disalurkan melalui Al-Tsauri Silwan Women Center (AWC) dan bantuan ke Gaza disalurkan melalui International Education Scientific and Cultural Organisation  (IESCO).


Wachid mengatakan, bantuan yang disalurkan sebagai bingkisan Ramadhan diperuntukkan bagi duafa dan warga yang terdampak covid-19, khususnya mereka yang tidak punya penghasilan tetap karena wilayah masing-masing dalam kondisi lockdown. Jumlah dana yang disalurkan sebesar USD 6.500 (enam ribu lima ratus Dolar) untuk Tepi Barat dan USD 6.500 (enam ribu lima ratus dolar) yang dikemas dalam bentuk paket sembako.


Wachid menuturkan, bantuan paket Ramadan ke Pelestina dilakukan sejak 7 Mei sampai 22 Mei 2020 sebagai bentuk kepedulian terhadap saudara-saudara kita di sana yang tengah bertahan melawan wabah Covid-19.


Sumber: (Media lazismu)



Demikian info terbaru Lazismu Salurkan Bantuan Paket Ramadan ke Rohingya dan Gaza – Berita , semoga dapat menambah wawasan , referensi dan bermanfaat.

Sumber